Dunia hanya memiliki waktu beberapa minggu sebelum merasakan dampak ekonomi dari eskalasi konflik di Timur Tengah dan terhentinya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Peringatan keras ini disampaikan Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, Kamis (16/7/2026).
"Jika Selat Hormuz tetap tertutup, kita mungkin akan kembali mengalami kesulitan bagi perekonomian global, termasuk di kawasan ini dan negara-negara berkembang serta Asia," kata Birol. "Waktu yang dimiliki bukan berbulan-bulan, tetapi beberapa minggu."
Ketegangan di Timur Tengah meningkat drastis dalam sepekan terakhir setelah Iran menyerang kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, termasuk dua kapal tanker super dari Uni Emirat Arab. Amerika Serikat merespons dengan melancarkan serangan terhadap Iran dan memberlakukan kembali blokade laut terhadap kapal serta pelabuhan di negara tersebut.
Lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz sebenarnya baru mulai pulih dalam tiga pekan setelah penandatanganan nota kesepahaman AS-Iran. Namun, situasi kembali memburuk akhir pekan lalu. Transit harian kapal tanker anjlok ke level terendah dalam lima minggu terakhir.
Dampaknya sudah terlihat di pasar energi. Harga minyak melonjak sekitar 13 persen sejak Jumat lalu. Birol mendesak agar Selat Hormuz dibuka sepenuhnya dan tanpa syarat untuk menyelamatkan perekonomian global dari tantangan dan perlambatan baru.
Artikel Terkait
AS Perluas Serangan ke Utara Iran, Teheran Balas dengan Rudal ke Bahrain dan Kuwait
AS Lancarkan Dua Gelombang Serangan ke Sistem Pertahanan Iran, Teheran Balas Hantam Fasilitas Militer AS
AS Klaim Selesaikan Gelombang Serangan Terbaru ke Iran, Targetkan Pusat Komando hingga Fasilitas Pesisir
AS Gempur Iran di Luar Pesisir Selat Hormuz, Serangan Meluas ke Wilayah Dalam