Militer Amerika Serikat menyatakan telah menyelesaikan gelombang serangan terbaru terhadap Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa pasukannya menyerang pusat komando Iran, situs pertahanan udara, kemampuan rudal dan drone, serta fasilitas pengawasan pantai. Operasi ini bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran di Selat Hormuz.
Dalam pernyataannya, CENTCOM menyebutkan bahwa mereka menggunakan amunisi presisi untuk mengenai target di beberapa lokasi, termasuk Bandar Abbas. Sebelumnya, pada hari Rabu, pasukan AS juga menyerang situs pertahanan pantai dan rudal jelajah di Pulau Greater Tunb dalam operasi yang berlangsung selama 90 menit.
Eskalasi ini dipicu oleh kegagalan negosiasi pasca-kesepakatan sementara serta ketegangan baru di Selat Hormuz. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata telah berakhir. Serangan udara masif yang diluncurkan CENTCOM kini memasuki hari kelima pada Juli 2026, menggunakan jet tempur, kapal perang, dan drone. Target utama meliputi sistem pertahanan pantai, radar, situs peluncuran rudal dan drone, serta fasilitas penjaga pantai Iran. Ledakan dilaporkan mengguncang kota-kota pesisir selatan seperti Bandar Abbas, Ahvaz, Chabahar, Jask, Bushehr, serta pulau-pulau strategis seperti Kish, Qeshm, dan Abu Musa.
AS juga memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Menggunakan rudal Hellfire, pesawat militer AS melumpuhkan tanker minyak kosong berbendera Curacao, M/T Belma, yang mengabaikan peringatan saat berlayar menuju Pulau Kharg jalur nadi ekonomi Iran. Trump bahkan mengancam akan menghancurkan jembatan dan pembangkit listrik jika Teheran menolak kembali ke meja perundingan.
Respons Iran: Serangan Balasan dan Penolakan Negosiasi
Teheran menegaskan tidak akan mundur dan menganggap kesepakatan damai sebelumnya telah dibatalkan oleh tindakan sepihak Washington. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan gelombang rudal balistik dan drone yang menargetkan aset-aset militer AS di Timur Tengah. Iran mengklaim berhasil merusak markas besar Armada Kelima AS di Bahrain, pusat logistik militer di Mina Abdullah (Kuwait), serta fasilitas militer AS di Pangkalan Udara Azraq (Yordania).
Sebagai balasan atas blokade ekonomi, Iran merudal dua kapal tanker minyak milik Uni Emirat Arab, Mombasa dan Bah, di perairan Oman. IRGC mengeluarkan ancaman keras: "Ekspor minyak dan gas dari kawasan ini akan dinikmati bersama oleh semua orang atau tidak sama sekali."
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa Iran tidak memiliki rencana untuk mengadakan pembicaraan baru dengan AS dan memilih fokus penuh pada pertahanan negara. Sirene dan artileri pertahanan udara Iran diaktifkan di ibu kota Teheran untuk mengantisipasi potensi perluasan serangan ke pusat pemerintahan.
Eskalasi perang ini telah memicu lonjakan harga minyak mentah Brent dunia hingga melebihi 85 dolar AS per barel. Di tengah pertempuran sengit, terdapat satu isyarat diplomatik langka: Iran membebaskan seorang warga negara ganda AS-Iran, Dena Karari, yang telah ditahan sejak Desember 2024. Langkah ini secara terbuka diapresiasi oleh Donald Trump melalui media sosial.
Artikel Terkait
AS Lumpuhkan Kapal Tanker yang Coba Menuju Iran dengan Rudal Hellfire
AS Gempur Iran di Luar Pesisir Selat Hormuz, Serangan Meluas ke Wilayah Dalam
Kuwait dan Bahrain Hadang Serangan Drone Iran
AS Perketat Blokade Selat Hormuz, Tembak Rudal ke Kapal yang Menerobos