Bursa Asia Tertekan Aksi Jual Saham Semikonduktor, Kospi Anjlok 6,3 Persen

- Kamis, 16 Juli 2026 | 09:50 WIB
Bursa Asia Tertekan Aksi Jual Saham Semikonduktor, Kospi Anjlok 6,3 Persen

Bursa saham Asia melemah pada Kamis (16/7/2026) seiring aksi jual di saham-saham semikonduktor menjelang rilis laporan keuangan Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC). Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 1,7 persen, sementara indeks KOSPI Korea Selatan anjlok 6,3 persen setelah saham Samsung Electronics merosot 8 persen dan SK Hynix jatuh 11 persen. Indeks Nikkei Jepang turun 3 persen, dan bursa Taiwan melemah 0,5 persen. Namun, Indeks Hang Seng Hong Kong justru menguat 1,2 persen.

Tekanan jual di sektor semikonduktor dipicu oleh ekspektasi pasar yang terlalu tinggi terhadap kinerja perusahaan chip. Saham ASML, pemasok utama peralatan produksi chip canggih, ditutup turun 0,4 persen di Wall Street meski perusahaan menaikkan proyeksi penjualan 2026 dan berkomitmen meningkatkan kapasitas produksi. "Terlihat aksi jual yang cukup agresif di sektor memori dan perangkat keras. Saya rasa tidak ada satu berita negatif yang menjadi pemicu utama pelemahan saham semikonduktor maupun perangkat keras. Ini hanya menunjukkan betapa tingginya ekspektasi terhadap kinerja sektor semikonduktor," kata Equity Trader JPMorgan Brian Heavey dalam sebuah catatan.

Fokus pelaku pasar kini tertuju pada laporan keuangan kuartalan TSMC, produsen chip kecerdasan buatan (AI) terbesar di dunia. Perusahaan itu diperkirakan mencatat rekor laba untuk kuartal kelima berturut-turut, dengan laba bersih April-Juni melonjak 59 persen. Meski demikian, ekspektasi investor dinilai sudah sangat tinggi.

Di sisi lain, pasar obligasi menguat setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan perlambatan, meredakan kekhawatiran kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Data inflasi produsen (PPI) AS untuk Juni yang lebih rendah dari perkiraan, menyusul data inflasi konsumen sehari sebelumnya, semakin mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada bulan ini. Peluang kenaikan suku bunga kini hanya sekitar 10 persen, turun dari 43 persen pada awal bulan.

Meski demikian, perlambatan inflasi tersebut diperkirakan hanya bersifat sementara. Kenaikan harga minyak akibat memanasnya konflik di Timur Tengah berpotensi kembali mendorong tekanan inflasi. Kontrak berjangka Brent naik 0,6 persen menjadi USD85,45 per barel, memperpanjang kenaikan mingguan menjadi 12 persen. Washington melanjutkan serangan terhadap Iran setelah kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan negara tersebut. Teheran pun memperingatkan bahwa mereka tengah menghadapi perang eksistensial dengan AS. The Wall Street Journal melaporkan Presiden Donald Trump cenderung memperluas operasi militer AS di Iran, termasuk dengan mengerahkan pasukan darat.

Di Korea Selatan, bank sentral menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam tiga setengah tahun menjadi 2,75 persen. Langkah tersebut diambil untuk menstabilkan nilai tukar won yang melemah serta meredam tekanan inflasi yang masih bertahan, dan keputusan itu sebagian besar telah diantisipasi pasar.

Semalam, Wall Street ditutup menguat karena investor mengalihkan dana dari saham semikonduktor ke kelompok saham Magnificent Seven dan sektor perbankan setelah sejumlah bank besar membukukan kinerja yang solid. Namun, bursa Asia dinilai lebih rentan terhadap aksi jual di sektor chip mengingat bobot saham semikonduktor yang lebih besar.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags