Laporan Kontak Israel dengan Ahmadinejad Picu Perdebatan soal Skenario Pasca-Rezim Iran

- Kamis, 16 Juli 2026 | 18:30 WIB
Laporan Kontak Israel dengan Ahmadinejad Picu Perdebatan soal Skenario Pasca-Rezim Iran

Dua laporan yang diterbitkan oleh media asing kembali memicu perdebatan tentang kemungkinan skenario pergantian rezim di Iran. Laporan tersebut mengklaim bahwa pejabat Israel menjajaki peran mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dalam transisi politik pasca-Republik Islam, termasuk melalui kontak rahasia di Hungaria.

Menurut laporan yang belum diverifikasi secara independen itu, Ahmadinejad dipindahkan ke rumah aman setelah kediamannya dihantam serangan udara Israel pada 28 Februari 2026. David Barnea, mantan kepala Mossad, disebut secara pribadi mengawasi upaya kontak tersebut, yang meliputi pertemuan di Budapest. Haaretz juga melaporkan bahwa operasi ini tidak hanya melibatkan Ahmadinejad, tetapi juga mencakup rencana infiltrasi di Iran, kontak dengan kelompok minoritas, dan diskusi strategi destabilisasi yang lebih luas.

Kantor Ahmadinejad membantah klaim tersebut, menyebutnya "absurd" dan "sepenuhnya tidak benar." Namun, analis politik Babak Dorbeiki dari London mengatakan bahwa tidak ada bukti publik yang dapat mengonfirmasi atau menolak detail narasi ini. "Jadi tidak bisa diterima begitu saja, tapi juga tidak bisa diabaikan hanya karena sudah dibantah," ujarnya kepada DW.

Posisi Ahmadinejad dalam Politik Iran

Dorbeiki menilai Ahmadinejad masih memiliki basis sosial dan ambisi politik yang cukup besar, tetapi hal itu tidak sama dengan kekuasaan nyata. Mantan presiden itu telah tersingkir dari institusi-institusi inti Republik Islam sejak sekitar 2010, termasuk dari Kantor Pemimpin Tertinggi, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Dewan Wali, dan sebagian besar kubu konservatif. Kegagalannya berulang kali lolos verifikasi sebagai calon presiden menunjukkan bahwa para pemain kunci tidak tertarik mengembalikannya ke pusat pengambilan keputusan.

Menurut Dorbeiki, laporan-laporan itu tidak boleh dipahami semata-mata sebagai upaya Israel mempromosikan Ahmadinejad sebagai penguasa masa depan. "Bahkan jika kita asumsikan laporannya benar, paling jauh itu menunjukkan bahwa pada suatu titik dia adalah salah satu pilihan yang dipertimbangkan, bukan bahwa dia akan segera kembali berkuasa," katanya.

Siapa yang Diuntungkan?

Dorbeiki menyoroti pertanyaan tentang siapa yang diuntungkan dari narasi semacam itu. Satu kemungkinan, negara Iran bisa menggunakannya untuk memperkuat gagasan bahwa bahkan seorang mantan presiden pun rentan terhadap penetrasi asing, membantu membenarkan langkah-langkah keamanan yang lebih ketat dan mempertebal rasa saling curiga di dalam negeri. Kemungkinan lain, para pengkritik Ahmadinejad bisa memanfaatkannya untuk memperkuat argumen bahwa warisan politiknya selalu merugikan Iran. Bagi Israel, publikasi cerita semacam itu bisa menjadi alat intelijen untuk memberi sinyal bahwa mereka memiliki jangkauan dan kemampuan menabur ketidakpercayaan di Iran, terlepas dari kebenaran setiap detail operasional.

Vahid Heroabadi, mantan ulama Syiah yang kini tinggal di Eropa, mengatakan bahwa kekuatan luar yang mencari pergantian rezim biasanya mencari tokoh dengan kapasitas mobilisasi massa. Namun, ia tidak percaya Ahmadinejad cocok untuk peran itu. "Mereka yang bisa memainkan peran dalam masa kini atau masa depan Iran adalah orang-orang yang terhubung dengan IRGC. Karena Ahmadinejad tidak lagi memiliki koneksi itu, dia tidak bisa benar-benar bertindak sebagai pemain politik yang menentukan," ujarnya.

Heroabadi, yang mengaku pernah dekat dengan pemerintahan Ahmadinejad, berpendapat bahwa bahkan dalam skenario keruntuhan rezim sekalipun, tidak ada pemerintah asing yang ingin memaksakan pergantian rezim yang akan bergantung pada tokoh populis yang sudah sangat dikenal dan memecah belah seperti Ahmadinejad. Menurutnya, Ahmadinejad bukan jembatan yang kredibel, baik bagi publik Iran maupun bagi otoritas keamanan yang punya peran penting dalam peralihan kekuasaan.

Laporan-laporan tentang mantan presiden itu mengungkap banyak hal tentang perang informasi yang lebih luas seputar Iran, tentang narasi yang mungkin ingin diproyeksikan oleh dinas-dinas intelijen, dan tentang bagaimana pihak-pihak luar membayangkan skenario pasca-Republik Islam di Iran, meski semua itu masih jauh dari kenyataan politik. Perjuangan atas Iran kini telah menjadi perjuangan atas narasi dan persepsi. Dalam pertarungan itu, bahkan cerita yang tidak masuk akal pun bisa menjadi berguna jika berhasil membuat cukup banyak orang merasa tidak tenang.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags