Harga LNG Blok Masela Masih Dibahas, Gas Pipa untuk Industri Rp 6-7 per MMBTU

- Kamis, 16 Juli 2026 | 19:18 WIB
Harga LNG Blok Masela Masih Dibahas, Gas Pipa untuk Industri Rp 6-7 per MMBTU

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan harga gas alam cair (LNG) dari Blok Masela masih dalam tahap pembahasan. Sementara itu, harga gas pipa untuk industri pengguna Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), seperti sektor pupuk, dipatok tetap sebesar USD 6-7 per MMBTU.

Bahlil menjelaskan, nantinya akan dibangun pipa gas sepanjang 180 kilometer dari lapangan lepas pantai. "Kalau kita pakai pipa, pipanya itu kan 180 kilometer. Dengan LNG-nya nanti, storage-nya nanti ada sebagian yang kita akan tarik dari laut, itu bisa kita blending. Yang jelas untuk pupuk itu kemarin kita sudah dapat kurang lebih sekitar USD 6 sampai USD 7 per MMBTU," ungkap Bahlil saat ditemui di Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7).

Untuk LNG, Bahlil menyebut harganya akan mengikuti formula yang berdasarkan harga minyak Indonesia (ICP). "LNG-nya memang dia akan memakai formulasi ICP. Tetapi yang saya inginkan adalah proses bahan bakunya dari sini sekalipun nilai rendah tapi multiplier effect, nilai tambahnya akan terjadi di sini," tuturnya.

Pengembangan Blok Masela mencakup fasilitas bawah laut (subsea), termasuk sumur bawah laut, pusat pengeboran, Subsea Umbilicals Risers and Flowlines (SURF), sumur injeksi CO2, dan SURF untuk fasilitas CCS. Nilai investasi proyek mencapai sekitar USD 20,9 miliar atau sekitar Rp 342 triliun, termasuk tambahan USD 1 miliar untuk teknologi CCS. Kapasitas produksi LNG direncanakan 9,5 juta ton per tahun, kondensat 35.000 barel per hari, dan gas alam sekitar 150 juta kaki kubik per hari.

"Pertama adalah 11 sumur pengembangan ditambah 4 sumur lanjutan. Yang kedua, pembangunan fasilitas berbagai macam fasilitas termasuk pelabuhan, dermaga, EPC-nya ini langsung berjalan," jelas Bahlil.

Produksi gas dari Blok Masela dialokasikan 60 persen untuk domestik dan 40 persen untuk ekspor. Penyerapan gas domestik salah satunya untuk industri hilirisasi pupuk dan blue ammonia yang dibangun PT Pupuk Indonesia, PT Perusahaan Gas Negara (PGN), dan PT PLN. "Dirut PT Pupuk akan membangun industri hilirisasi di sini. Kemudian kita akan menyerahkan sebagian kepada PLN, PGN, dan beberapa perusahaan swasta yang sekaligus untuk meningkatkan nilai tambah dalam rangka mendorong penciptaan nilai ekonomi di daerah," tutur Bahlil.

Ditemui terpisah, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan sudah ada beberapa pembeli luar negeri yang akan menggunakan gas dari Blok Masela, seiring dimulainya proses tender EPC dan target Final Investment Decision (FID) akhir tahun ini. Menjelang penyelesaian FID, perusahaan telah menetapkan harga LNG sebesar USD 12,5 per MMBTU. "Kan kita tahu FID itu ketika tahu cost-nya kan? Kemudian harga gasnya juga sudah semua nanti, kan antara LNG ekspor harganya beda-beda tipis lah, (USD) 12,5 (per MMBTU) gitu ya," ungkap Djoko.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags