Sepanjang 2026, gangguan kesehatan mental seperti stres dan kelelahan kerja ekstrem atau burnout di kalangan pekerja Indonesia menunjukkan lonjakan konstan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang bersifat musiman, permintaan konsultasi psikologis kini terus merangkak naik.
Meski realitas di lapangan menunjukkan tren kenaikan, data tunjangan kesehatan karyawan yang dijamin asuransi korporasi justru memperlihatkan kondisi sebaliknya. Angka klaim jaminan untuk kesehatan mental terpantau masih sangat minim.
VP Insurance Halodoc, Saswat Satadal, menjelaskan minimnya angka jaminan tersebut dipicu oleh tingginya komitmen biaya penanganan medis. Manajemen perusahaan masih menahan pemberian fasilitas jaminan psikologis ini. Berbeda dengan pengobatan fisik kuratif yang umumnya selesai dalam sekali pemeriksaan, terapi kesehatan mental menuntut biaya yang tidak murah.
"Perusahaan memiliki pertimbangan tertentu untuk memberikan fasilitas ini karena biayanya definitif tidak murah. Penanganan kesehatan mental biasanya tidak bisa selesai hanya dalam satu kali konsultasi, melainkan membutuhkan sesi yang berkelanjutan," papar Saswat dalam Media Gathering di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Sementara itu, Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria, mengungkapkan bahwa kecilnya angka klaim di laporan jaminan kesehatan murni dipengaruhi oleh kebijakan perluasan proteksi dari masing-masing perusahaan yang belum merata.
"Data asuransi belum tentu menggambarkan situasi riil secara total karena faktor coverage atau cakupan komersialnya. Masih banyak perusahaan atau penyedia asuransi yang belum mau menanggung biaya kesehatan mental karyawan. Namun, jika melihat data konsultasi secara keseluruhan di luar cakupan asuransi kerja, angkanya tumbuh terus-menerus sampai sekarang," jelas Fibriyani.
Platform kesehatan Halodoc mencatat adanya anomali pada pergerakan data kesehatan mental pekerja tahun ini. Jika sebelumnya grafik kecemasan hanya memuncak menjelang momentum hari raya seperti Lebaran lalu kembali normal, saat ini pertumbuhan kasus justru terjadi secara berkelanjutan melampaui tren musiman tersebut.
Di sisi lain, Head of Human Resources Halodoc, Ruth Christine Novalinda, menambahkan bahwa faktor stigma negatif juga menjadi tembok besar yang membuat karyawan enggan bersuara atau mengakui adanya gangguan psikologis yang mereka alami. Ketakutan akan penilaian buruk di lingkungan kerja membuat banyak pekerja memilih untuk menutup diri.
Jurang pemisah tingkat kesadaran ini juga terlihat sangat kontras antarsektor industri. Pada industri padat karya dengan risiko fisik tinggi seperti sektor manufaktur, energi, dan pertambangan, para pekerja cenderung menutup rapat masalah kesehatan mental mereka.
"Kondisinya berbanding terbalik dengan sektor industri teknologi. Karakteristik pekerja di sektor teknologi didominasi oleh generasi muda yang jauh lebih berpikiran terbuka. Mereka lebih menerima bahwa kesehatan mental adalah aspek yang krusial, sehingga mereka tidak ragu untuk mencari bantuan profesional," tutur Ruth.
Artikel Terkait
Aset Industri Asuransi Tembus Rp1.197 Triliun pada Mei 2026, Tumbuh 2,87 Persen
Fenomena Self-Diagnose Kesehatan Mental di Kalangan Remaja, Antara Kesadaran dan Kesalahpahaman
Quarter-Life Crisis, Fenomena yang Kian Umum di Kalangan Anak Muda
Quiet Quitting: Antara Menjaga Batasan atau Sinyal Lingkungan Kerja yang Tidak Sehat?