Fenomena Self-Diagnose Kesehatan Mental di Kalangan Remaja, Antara Kesadaran dan Kesalahpahaman

- Minggu, 05 Juli 2026 | 16:06 WIB
Fenomena Self-Diagnose Kesehatan Mental di Kalangan Remaja, Antara Kesadaran dan Kesalahpahaman

Lelah kuliah, sulit fokus, atau sesekali overthinking, lalu tiba-tiba muncul pikiran, "Jangan-jangan aku anxiety?" Fenomena ini makin sering terjadi, terutama di kalangan remaja dan generasi Z. Maraknya konten kesehatan mental di media sosial membuat istilah psikologis seperti anxiety, trauma, burnout, ADHD, hingga overthinking menjadi akrab dalam percakapan sehari-hari. Namun, tidak semua kondisi emosional bisa langsung disebut sebagai gangguan mental. Inilah yang dikenal dengan istilah self-diagnose atau diagnosis diri sendiri.

Fenomena self-diagnose sering muncul setelah seseorang menonton konten kesehatan mental di media sosial. Banyak orang mulai menghubungkan perasaan atau kebiasaan yang dialami dengan gangguan psikologis tertentu tanpa pemeriksaan profesional. Misalnya, ketika sering merasa khawatir, banyak berpikir, atau sulit tenang, seseorang langsung menganggap dirinya mengalami anxiety disorder. Padahal, rasa cemas dan overthinking adalah emosi normal yang dialami setiap orang dalam situasi tertentu. Gangguan kecemasan baru bisa didiagnosis jika gejalanya berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari, menurut American Psychiatric Association (2013).

Contoh lain adalah ketika seseorang sulit fokus saat belajar atau mudah terdistraksi, lalu menyimpulkan dirinya memiliki ADHD. Padahal, kesulitan konsentrasi juga bisa dipengaruhi oleh kurang tidur, kelelahan, stres akademik, atau penggunaan media sosial berlebihan. Perasaan sedih berkepanjangan juga sering langsung dikaitkan dengan depresi. Meski kesedihan merupakan salah satu gejala depresi, diagnosis gangguan depresi tidak bisa ditentukan hanya dari satu kondisi emosional. Dalam psikologi, diperlukan evaluasi lebih lanjut mengenai intensitas, durasi, dan pengaruhnya terhadap kehidupan seseorang.

Media sosial seperti TikTok menjadi panggung utama penyebaran konten kesehatan mental. Informasi yang singkat, menarik, dan mudah dipahami membuat istilah-istilah psikologis cepat diterima, terutama oleh remaja yang aktif menggunakan platform tersebut hampir setiap hari. Banyak orang merasa "relate" dengan gejala atau pengalaman yang dijelaskan dalam video, lalu mulai menghubungkan kondisi mereka dengan gangguan mental tertentu. Akibatnya, individu menyimpulkan sendiri kondisi psikologisnya tanpa melakukan pemeriksaan ke tenaga profesional.

Fenomena ini makin berkembang karena media sosial memberi ruang bagi pengguna untuk saling berbagi pengalaman pribadi tentang kesehatan mental. Pengalaman tersebut sering membuat orang lain merasa memiliki kondisi yang sama, meskipun setiap individu memiliki latar belakang dan kondisi psikologis berbeda. Algoritma media sosial juga terus menampilkan konten serupa, sehingga seseorang semakin yakin dengan diagnosis yang dibuat sendiri.

Di satu sisi, meningkatnya konten kesehatan mental memberikan dampak positif karena masyarakat menjadi lebih sadar akan pentingnya menjaga kondisi psikologis. Namun, di sisi lain, informasi yang diterima tanpa pemahaman tepat bisa memunculkan kesalahpahaman mengenai gangguan mental dan mendorong self-diagnose. Dalam psikologi, diagnosis tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan satu atau dua gejala. Perasaan cemas, sedih, sulit fokus, atau mudah lelah adalah kondisi yang bisa dialami siapa saja. Suatu kondisi baru bisa dikategorikan sebagai gangguan psikologis jika gejalanya berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas.

Peran Profesional dalam Diagnosis

Dalam proses psikodiagnostik, seorang psikolog biasanya melakukan wawancara, observasi, dan penggunaan alat tes psikologi untuk memahami kondisi individu secara mendalam. Media sosial memang membantu meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan mental, tetapi informasi yang beredar tetap perlu disikapi dengan bijak. Memahami diri sendiri adalah hal baik, namun diagnosis tetap memerlukan bantuan profesional agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap kondisi psikologis yang dialami.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags