Quiet Quitting: Antara Menjaga Batasan atau Sinyal Lingkungan Kerja yang Tidak Sehat?

- Rabu, 01 Juli 2026 | 16:06 WIB
Quiet Quitting: Antara Menjaga Batasan atau Sinyal Lingkungan Kerja yang Tidak Sehat?

Istilah quiet quitting belakangan ramai diperbincangkan di kalangan pekerja. Meski namanya seperti mengundurkan diri, fenomena ini justru berarti karyawan tetap bekerja sesuai tugas dan tanggung jawab, namun tanpa memberikan usaha ekstra di luar kewajiban.

Fenomena ini memicu perdebatan. Sebagian pihak menilai quiet quitting sebagai indikasi menurunnya loyalitas. Namun, tidak sedikit yang melihatnya sebagai upaya menetapkan batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi demi menjaga kesehatan mental. Lantas, apakah quiet quitting benar-benar bentuk perlindungan kesehatan mental?

Salah satu pemicu utama adalah burnout kelelahan fisik dan emosional akibat tekanan kerja berkepanjangan. Ketika beban kerja terasa berat, penghargaan minim, atau peluang pengembangan terbatas, motivasi karyawan bisa merosot. Akibatnya, mereka memilih bekerja sesuai deskripsi tanpa mengambil tanggung jawab tambahan.

Di sisi lain, quiet quitting bisa menjadi alarm bagi perusahaan untuk mengevaluasi budaya kerja. Kurangnya apresiasi, komunikasi yang buruk, atau kepemimpinan yang tidak suportif dapat mengikis keterikatan karyawan. Dalam situasi demikian, bekerja sekadar memenuhi kewajiban menjadi respons terhadap lingkungan yang dianggap tidak sehat.

Namun, tidak semua pelaku quiet quitting melakukannya demi kesehatan mental. Ada yang ingin menyeimbangkan hidup, tetapi ada pula yang sekadar kehilangan motivasi atau tidak puas dengan pekerjaannya. Karena itu, fenomena ini tidak bisa disederhanakan sebagai kemalasan atau strategi menjaga mental semata.

Pada akhirnya, quiet quitting mencerminkan perubahan lanskap dunia kerja. Karyawan kini semakin sadar akan pentingnya keseimbangan, sementara organisasi dituntut menciptakan lingkungan yang sehat, memberikan apresiasi yang adil, dan membangun komunikasi efektif. Dengan begitu, quiet quitting bukan sekadar tren, melainkan pengingat bahwa produktivitas dan kesejahteraan harus berjalan beriringan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags