Indonesia Berpeluang Ramaikan Pasar Matcha Global, Petani Lokal Mulai Produksi

- Selasa, 30 Juni 2026 | 18:35 WIB
Indonesia Berpeluang Ramaikan Pasar Matcha Global, Petani Lokal Mulai Produksi

Popularitas matcha di Indonesia terus meroket. Bubuk teh hijau asal Jepang ini kini tak hanya hadir di kafe-kafe premium, tetapi juga merambah kedai pinggir jalan hingga kreasi makanan seperti martabak, klepon, dan risol. Namun, di balik demam hijau ini, sebagian besar matcha yang dikonsumsi masih diimpor. Sebagai salah satu negara penghasil teh terbesar di dunia, mampukah Indonesia ikut bermain di pasar yang didominasi Jepang?

Matcha mulai dikenal di Indonesia sekitar tahun 2000-an melalui jaringan kedai kopi global, biasanya sebagai alternatif bagi yang tidak minum kopi. Berbeda dengan teh hijau biasa, matcha berasal dari daun teh yang ditanam dan diolah secara khusus. Proses penaungan sebelum panen meningkatkan kandungan L-theanine yang memberi rasa umami dan warna hijau cerah. Kandungan antioksidannya yang tinggi serta efek fokus yang tenang membuat matcha populer di media sosial.

CEO Uji Matcha, Merisha Ayu, mengatakan perkembangan pasar matcha sangat signifikan. "Saya percaya ke depannya matcha ini masih tetap booming. Apalagi dengan gaya hidup masyarakat yang lebih peduli kesehatan," ujarnya. Perusahaan riset Mobility Foresight memprediksi pasar matcha Indonesia tumbuh rata-rata 14,8% per tahun hingga 2031, didorong kesadaran kesehatan, budaya kafe yang Instagrammable, dan inovasi produk.

Petani Lokal Mulai Produksi

Potensi ini sudah dibaca oleh produsen teh lokal di Ciwidey, Jawa Barat. Rizal Firdaus, yang keluarganya telah puluhan tahun berkecimpung di bisnis teh, mulai bereksperimen dengan matcha pada 2016. "Saya melihat yang produksi matcha di Indonesia tidak ada saat itu. Mungkin ada hanya green tea powder, tapi matcha masih dari Jepang," katanya. Butuh delapan tahun riset dan pengembangan hingga Rizal yakin memasarkan matcha buatannya.

Proses produksi matcha lokal memerlukan perlakuan khusus. Tanaman teh dinaungi dua minggu sebelum panen, dipetik manual hanya pucuk terbaik, lalu digiling dengan mesin batu menyerupai penggiling di Jepang. Saat ini, Rizal mampu memproses 300 kilogram pucuk teh per hari, naik dari 20 kilogram saat awal. Produknya termasuk dalam kategori culinary grade, dirancang untuk campuran susu atau gula.

Produsen lain, Ifah Syarifah, juga memproduksi matcha lokal dengan merek Arafa Tea. Dalam sebulan, ia bisa mendapat pesanan hingga 500 kilogram, dengan 70% di antaranya adalah matcha. "Jangan takut, jangan malu minum matcha Indonesia karena itu punya kita," ujarnya. Ia menekankan nilai tambah dari memberdayakan petani lokal.

Potensi dan Tantangan Matcha Lokal

Secara teknis, teh di Indonesia bisa dibuat matcha, namun hasilnya tidak persis sama dengan Jepang. Tanaman teh di Indonesia umumnya varietas assamica yang memiliki rasa sepat kuat, berbeda dengan sinensis yang lebih lembut. Peneliti PPTK Gambung, Kralawi Sita, mengatakan, "Kita mungkin tidak bisa sama betul, tetapi kita bisa mendekati yang mirip. Yang penting konsumen menerima, sambil mengedukasi bahwa ada diversifikasi produk."

Penelitian Universitas Gadjah Mada pada 2022 menunjukkan bahwa matcha lokal dari varietas assamica klon Gambung masih kurang disukai karena rasa sepat yang dominan. Namun, peneliti Supriyadi melihat potensi segmen pasar berbeda. "Kita harus mencoba mencari klon yang paling pas. Matcha lokal punya potensi antioksidan lebih tinggi," katanya. Ia menekankan pentingnya edukasi kepada konsumen.

Meski belum bisa menandingi cita rasa matcha Jepang, meningkatnya permintaan dan keterbatasan pasokan dari Jepang membuka peluang bagi produsen dalam negeri. "Dengan melihat tren permintaan, Indo matcha yang saya produksi kelihatannya akan terus berkembang," kata Rizal optimistis.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags