Produsen minyak di Timur Tengah kini berlomba mencari pembeli untuk menghabiskan stok minyak mentah yang menumpuk setelah perang di kawasan Teluk Persia. Chief Executive Officer TotalEnergies Patrick Pouyanné mengatakan, persediaan minyak yang terakumulasi selama konflik membuat para produsen sangat ingin menjualnya.
“Produsen di Timur Tengah telah membangun persediaan minyak yang sangat besar sehingga sekarang mereka sangat ingin menjual minyak tersebut,” kata Pouyanné, Minggu (5/7).
Meski demikian, distribusi masih menghadapi kendala. Banyak perusahaan pelayaran enggan mengirim kapal tanker melalui Selat Hormuz karena khawatir terhadap risiko keamanan. Akibatnya, arus pengiriman belum sepenuhnya pulih.
“Masih ada kesulitan bagi kapal tanker untuk melintasi Selat Hormuz karena banyak pemilik kapal yang masih enggan mengambil risiko. Akibatnya, para produsen memberikan diskon besar terhadap minyak mentah mereka, dan harga minyak pun terus merosot,” ujarnya.
Di sisi lain, harga produk olahan seperti bensin dan diesel masih mencerminkan situasi ketika harga minyak mentah berada di kisaran USD 95 hingga USD 100 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Brent pada perdagangan Jumat (3/7) berada di kisaran USD 72 per barel.
Pouyanné memperkirakan pasar membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat bulan untuk kembali mencapai keseimbangan antara pasokan dan distribusi. “Konsekuensi dari pemblokiran pada akhirnya cukup kompleks. Ada sejumlah perkembangan yang tidak terduga dan cukup mencolok yang sedang terjadi saat ini,” kata Pouyanné.
Artikel Terkait
AS Peringatkan Iran soal Status Quo Selat Hormuz
Iran Peringatkan AS di Selat Hormuz, Siapkan Respons Cepat dan Tegas
Harga Minyak Mentah Lanjutkan Penurunan, Komoditas Lain Bervariasi
Iran Tegaskan Kedaulatan Atas Selat Hormuz Usai Teken MoU dengan AS