Pasar Merchandise Penggemar di Jepang Tembus Rp 405 Triliun, Dorong Bisnis Lintas Sektor

- Sabtu, 04 Juli 2026 | 07:24 WIB
Pasar Merchandise Penggemar di Jepang Tembus Rp 405 Triliun, Dorong Bisnis Lintas Sektor

Fenomena belanja penggemar atau oshikatsu di Jepang telah menjelma menjadi kekuatan ekonomi baru yang diperkirakan bernilai ¥4,1 triliun atau sekitar Rp 405 triliun. Nilai pasar ini bahkan menarik perhatian Bank of Japan karena dinilai mampu menopang konsumsi di tengah lesunya ekonomi dan tekanan inflasi.

Pertumbuhan pesat ini didorong oleh meningkatnya pengeluaran masyarakat untuk mendukung idola, karakter anime, hingga kreator konten favorit mereka. Berbagai perusahaan dari sektor yang sebelumnya tak terkait pun mulai merambah pasar ini.

Gelaran Oshikatsu Expo di Tokyo bulan lalu menjadi bukti nyata. Lebih dari 240 perusahaan pemasok berpartisipasi, melonjak drastis dari sekitar 20 peserta saat pameran pertama dua tahun lalu. Produk yang ditawarkan pun semakin beragam, mulai dari lencana koleksi, figur karakter, casing ponsel, hingga parfum bertema idola.

Salah satu peserta, Pinole Co., perusahaan parfum asal Jepang, memproduksi wewangian khusus bagi para penggemar. "Orang-orang ingin merasa terhubung dengan idola mereka dengan mengenakan wewangian tersebut," ujar Direktur Pengembangan Bisnis Pinole, Kei Yamasaki.

Menurut konsultan industri oshikatsu Nanami Semachi, pertumbuhan pasar kini tidak hanya berasal dari penjualan merchandise resmi, tetapi juga layanan pendukung yang dibangun komunitas penggemar. "Sisi resmi dari fandom sudah ada selama bertahun-tahun. Yang berkembang sekarang adalah sisi tidak resminya: iklan penggemar, kegiatan yang diselenggarakan penggemar, komunitas, dan layanan baru yang mendukung perilaku tersebut," jelas Semachi, yang mematok biaya ¥20.000 untuk kursus individu dan ¥550.000 untuk konsultasi perusahaan.

Peluang bagi Perusahaan Tradisional

Peluang bisnis ini juga dimanfaatkan perusahaan yang sebelumnya jauh dari industri hiburan. Katani Co., produsen lembaran emas berusia 127 tahun yang biasa memasok kebutuhan kemasan, kosmetik, dan otomotif, kini menjual altar berlapis emas untuk memajang foto idola. Altar tersebut dijual seharga ¥500.000 hingga ¥600.000, sedangkan versi yang lebih kecil sekitar ¥100.000.

"Kami ingin menghadirkan sesuatu yang lebih glamor ke pasar," kata perwakilan penjualan Yasuaki Higashikawa. Segmen oshikatsu telah menghasilkan penjualan sekitar ¥80 juta bagi perusahaan yang sedang mempertimbangkan tim penjualan khusus untuk fokus pada produk-produk tersebut.

Perubahan Demografi Dorong Pertumbuhan

Kepala Ekonom Pasar Nomura Securities, Kohei Okazaki, menilai perubahan demografi Jepang turut mendorong pesatnya pertumbuhan ekonomi penggemar. Berdasarkan survei Januari, sekitar satu dari empat konsumen Jepang mengaku aktif melakukan oshikatsu, meningkat 7,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Okazaki, semakin banyak masyarakat yang belum memiliki anak sehingga memiliki pendapatan dan waktu luang lebih besar untuk dibelanjakan pada hiburan. Pengeluaran yang sebelumnya dialokasikan untuk hobi seperti otomotif atau minuman beralkohol kini mulai bergeser ke produk dan pengalaman yang berkaitan dengan idola maupun karakter favorit.

Meski demikian, karakter pasar mulai berubah. Rata-rata pengeluaran tahunan setiap penggemar turun menjadi sekitar ¥210.000 dari sebelumnya ¥255.000. Penurunan ini menunjukkan semakin banyak penggemar kasual yang masuk ke pasar sehingga basis konsumennya semakin luas.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags