Airlangga: AI Berpotensi Dongkrak Pendapatan Indonesia hingga Rp 2 Triliun Dolar AS

- Sabtu, 18 Juli 2026 | 06:48 WIB
Airlangga: AI Berpotensi Dongkrak Pendapatan Indonesia hingga Rp 2 Triliun Dolar AS

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) berpotensi meningkatkan pendapatan Indonesia hingga 2 triliun dolar AS. Pernyataan itu disampaikan menyusul resminya Indonesia menjadi salah satu negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO), sebuah organisasi kerja sama AI internasional yang digagas China bersama 28 negara lain.

Menurut Airlangga, keikutsertaan Indonesia dalam WAICO merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia berperan aktif dalam membangun tata kelola AI yang inklusif, aman, beretika, dan tidak dimonopoli oleh kekuatan tertentu. Dalam konferensi pers secara daring, Jumat (17/7) malam, ia menjelaskan bahwa dalam skenario business as usual, AI diperkirakan menyumbang 400 miliar dolar AS pada 2030. Namun, jika kerangka ekonomi digital diimplementasikan, angkanya bisa melonjak hingga 2 triliun dolar AS.

“Jadi kalau kita ketahui bahwa AI ini mempunyai potensi untuk menyumbang pendapatan bagi Indonesia, business as usual di tahun 2030 sampai 400 miliar dolar, tetapi dengan diimplementasikannya digital economy framework, nah ini akan meningkat menjadi 2 triliun [USD],” ucapnya.

Airlangga mencontohkan salah satu implementasi transformasi digital yang sudah berjalan, yaitu sistem pembayaran QRIS yang kini bisa digunakan di sejumlah negara ASEAN, Korea Selatan, dan Jepang. Ia menambahkan, status Indonesia sebagai negara pendiri WAICO memberikan keuntungan strategis karena pemerintah dapat terlibat sejak awal dalam pembahasan arah pengembangan AI dunia.

“Karena dengan menjadi founder, kita tentu mempunyai akses pertama terhadap seluruh pembicaraan mengenai perkembangan daripada AI itu sendiri,” jelasnya.

Lebih lanjut, Airlangga membantah anggapan bahwa keikutsertaan Indonesia di WAICO menunjukkan keberpihakan kepada China dalam persaingan teknologi global. Menurutnya, Indonesia tetap menjalankan strategi kerja sama yang bersifat multisource.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags