Airlangga Optimistis AI Jadi Katalisator Ekonomi Digital Indonesia Menuju USD300 Miliar

- Jumat, 17 Juli 2026 | 09:30 WIB
Airlangga Optimistis AI Jadi Katalisator Ekonomi Digital Indonesia Menuju USD300 Miliar

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) secara luas akan menjadi katalisator utama yang mampu melipatgandakan nilai ekonomi digital Indonesia hingga USD300 miliar. Menurutnya, teknologi ini akan mempercepat lompatan besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan.

“Saya rasa saat ini ekonomi digital Indonesia bernilai USD13 miliar, dan kita sedang menuju USD300 miliar, di mana jumlah tersebut akan berlipat ganda dengan adanya AI,” kata Airlangga di Shanghai, Jumat (17/7/2026).

Untuk mengamankan potensi tersebut dan memperkuat tata kelola teknologi di tingkat internasional, Pemerintah Indonesia secara resmi menandatangani dokumen pendirian Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Artifisial Global atau World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO). Langkah strategis ini dieksekusi oleh Menko Airlangga atas arahan Presiden Prabowo Subianto yang disampaikan dalam Rapat Terbatas pada 13 Juli lalu.

Penandatanganan dokumen bertajuk “Agreement on the Establishment of the World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO)” berlangsung dalam rangkaian konferensi World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai, China. Sebelum prosesi, Menko Airlangga melakukan pertemuan dengan Presiden RRT Xi Jinping dan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

Indonesia menjadi salah satu Anggota Pendiri (Founding Member) dari organisasi internasional antar-pemerintah yang independen ini. Penandatanganan dilakukan bersama perwakilan sekitar 30 negara lain, seperti RRT selaku tuan rumah, Brasil, Rusia, Malaysia, Afrika Selatan, Arab Saudi, Serbia, dan beberapa negara berkembang lainnya.

Kehadiran Indonesia di lembaga yang memiliki personalitas hukum internasional ini bertujuan memastikan arah pengembangan tata kelola AI global tetap berpusat pada manusia (human-centric approach). Organisasi ini juga berkomitmen mendorong pembangunan ekonomi yang mempercepat Agenda Pembangunan Berkelanjutan PBB demi kemaslahatan umat manusia yang aman dan adil.

Sebagai wadah global yang berfokus pada kerja sama AI di ranah sipil (civilian domain) secara inklusif dan non-diskriminatif, WAICO memberikan peluang bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam merumuskan kebijakan sejak tahap awal. Pemerintah memastikan keterlibatan ini berjalan selaras dengan regulasi nasional, kedaulatan data, serta prinsip etika AI.

“Melalui wadah ini, Indonesia berkomitmen untuk mengambil peran aktif menjembatani kesenjangan kemampuan teknologi secara global (bridging the AI divide). Kehadiran para perwakilan Pemerintah negara sahabat menegaskan bahwa kita memiliki visi yang sama dalam mengelola AI agar lebih aman (safe), tepercaya (trustworthy), dan beretika (ethical),” ujar Airlangga.

Dalam implementasi domestik, Menko Airlangga memaparkan bahwa AI akan dioptimalkan untuk mendukung efisiensi di sektor pertanian modern, pengelolaan energi terbarukan, transisi energi, hingga inovasi layanan kesehatan digital. Namun, ia menggarisbawahi bahwa ekspansi AI tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan infrastruktur digital yang kokoh, khususnya kesiapan Pusat Data (Data Center) di dalam negeri.

Sebagai tindak lanjut konkret dari kemitraan strategis ini, pemerintah akan segera memperkuat koordinasi lintas Kementerian dan Lembaga (K/L). Langkah ini ditujukan untuk memaksimalkan platform WAICO dalam mempercepat transformasi digital nasional, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di bidang AI, dan membuka peluang kolaborasi internasional yang memberikan nilai tambah tinggi bagi perekonomian nasional.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags