“Mudah ngeceknya, bandingkan saja dengan kualitas barang yang diterima dengan harga pasar yang ada,” lanjutnya.
Namun begitu, monitoring dan evaluasi yang konsisten adalah kunci utama untuk meminimalkan kerugian ke depan. Jika ditemukan kejanggalan, langkah hukum harus ditegakkan tanpa kompromi. Itu strateginya.
Persoalan lain yang tak kalah pelik adalah soal pembiayaan. Esther menyoroti jurang lebar antara utang pemerintah untuk membiayai Whoosh dan potensi pemasukan dari operasionalnya. “Gapnya sangatlah besar,” ujar Esther.
Kesenjangan itulah yang kemudian berimbas langsung pada waktu pengembalian modal. Dengan tingkat okupansi atau keterisian penumpang seperti sekarang, perhitungan Esther mengarah pada angka yang suram. Periode balik modalnya bisa melampaui satu abad.
“Ini mengakibatkan tingkat pengembalian (payback period) proyek Whoosh sangat lama. Saya pernah menghitung sekitar lebih 100 tahun lebih dengan tingkat okupansi Whoosh seperti sekarang,” tegas dia.
Fakta-fakta itu tentu mengundang pertanyaan besar. Ke mana arah proyek infrastruktur megah ini selanjutnya? Evaluasi mendalam tampaknya bukan lagi sekadar opsi, melainkan sebuah keharusan.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan WFH untuk Swasta Hanya Imbauan, Bukan Kewajiban
Heineken Gelar Kampanye Fans Have More Friends, Tawarkan 7 Tiket ke Final Liga Champions
Danantara Jelaskan Alasan Mayoritas Operator PLTSa Berasal dari China
Donnarumma Bantah Isu Minta Bonus, Ungkap Luka Terbesar Setelah Italia Gagal ke Piala Dunia