PT FKS Food Sejahtera Tbk, atau AISA, punya rencana besar. Perusahaan makanan itu berencana melakukan kuasi reorganisasi, sebuah langkah korporasi yang intinya ingin menghapus beban lama: akumulasi kerugian yang menumpuk hingga Rp2,7 triliun per akhir 2025. Angka yang fantastis, bukan?
Menurut manajemen, langkah ini penting. Mereka ingin laporan keuangan mencerminkan kondisi yang sebenarnya, sekaligus memastikan bisnis bisa terus berjalan dan berkembang ke depan. Intinya, mereka ingin mulai dari halaman yang bersih.
"Perseroan bermaksud untuk melakukan kuasi reorganisasi dengan menggunakan laporan keuangan konsolidasian tanggal 31 Desember 2025,"
Begitu penjelasan resmi mereka dalam keterbukaan informasi yang dirilis Rabu (8/4/2026).
Lalu, dari mana asal muasal kerugian sebesar itu? Ceritanya bermula dari tahun 2017. Saat itu, AISA tercatat merugi sangat dalam, mencapai Rp5,23 triliun. Rupanya, kerugian tahun itu menjadi momok yang terus membayangi performa keuangan di tahun-tahun berikutnya.
Penyebabnya? Manajemen menyebutkan dua hal utama. Pertama, ada penyisihan penurunan nilai untuk piutang kepada pihak berelasi yang mencapai Rp4,3 triliun. Kedua, terjadi penurunan nilai investasi senilai Rp893 miliar. Kombinasi keduanya menghasilkan pukulan yang sangat berat bagi neraca perusahaan.
Namun begitu, ceritanya mulai berubah sejak 2023. AISA berhasil bangkit. Mereka konsisten mencetak laba usaha dan laba bersih. Perbaikan ini didorong oleh beberapa hal: ekspansi jaringan distribusi, efisiensi biaya produksi, dan tentu saja, peluncuran produk-produk baru yang mampu bersaing di pasar.
Nah, dengan kuasi reorganisasi ini, harapannya jelas. Manajemen AISA ingin benar-benar mendapatkan "fresh start". Mereka ingin fokus membangun kinerja ke depan tanpa terus-terusan terbebani defisit masa lalu. Di sisi lain, struktur ekuitas perusahaan juga akan tampak lebih sehat. Ini penting, lho, untuk menarik pendanaan baru dan yang dinanti investor membuka peluang pembagian dividen.
Saat ini, prosesnya sudah berjalan. Perusahaan sedang mengajukan permohonan ke Kementerian Hukum terkait rencana pengurangan modal. Mereka optimis syarat-syarat kuasi reorganisasi bisa terpenuhi, mengingat kinerja positif yang telah ditunjukkan dalam tiga tahun terakhir.
Rencananya, pada 15 Mei 2026 mendatang, akan digelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Di sinilah restu dari para pemegang saham akan diminta. Saat ini, PT Pangan Sejahtera Investama memegang kendali sebagai pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 58,47 persen.
Jadi, langkah AISA ini seperti usaha reset keuangan. Mereka menatap masa depan dengan lebih ringan, setelah bertahun-tahun menanggung beban dari masa lalu.
Artikel Terkait
Ancal Bidik 100 Ribu Wisatawan Selama Libur Panjang Iduladha
BRI Salurkan 5.000 Lebih Hewan Kurban ke Seluruh Indonesia saat Idul Adha
BEI Pindahkan GOTO dan BELI ke Papan Pengembangan, 26 Saham Naik Kelas ke Papan Utama
Harga Emas Batangan di Pegadaian Turun saat Iduladha, Antam Terkoreksi ke Rp2,897 Juta per Gram