Menjelang akhir Syawal 1447 H, para khatib mungkin sedang mencari bahan. Topik tentang menjaga semangat ibadah pasca-Ramadan selalu relevan. Bagi umat Islam, bulan Syawal ini sebenarnya momen krusial. Ini saatnya kita mempertahankan, atau bahkan meningkatkan, intensitas ibadah setelah sebulan penuh 'digembleng' di Ramadan.
Nah, sebagai gambaran, berikut ini contoh teks khutbah Jumat untuk esok hari, Jumat 10 April 2026 atau 21 Syawal 1447 H. Teks ini ditulis oleh H. Muhammad Faizin, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung, yang dikutip dari laman Kemenag. Mudah-mudahan bisa jadi rujukan.
Khutbah Pertama
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah SWT, Tuhan semesta alam. Nikmat-Nya yang tercurah tak terhitung, termasuk nikmat iman dan takwa yang membuat kita tetap merasakan manisnya Islam. Hanya kalimat syukur, Alhamdulillahirabbil ‘alamin, yang layak kita ucapkan. Dan percayalah, dengan syukur itu, Allah janji akan menambah nikmat-Nya.
Allah berfirman dalam Surat Ibrahim ayat 7:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’”
Syukur itu mesti nyata. Diwujudkan dengan menguatkan ketakwaan: menjalankan perintah, menjauhi larangan-Nya. Dengan begitu, kita akan selalu dapat perlindungan dan petunjuk-Nya. Hidup ini, pada hakikatnya, adalah untuk beribadah. Seperti dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 56: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kita baru saja melewati Ramadan. Bulan itu jadi momentum puncak, di mana kuantitas dan kualitas ibadah kita melesat. Puasa, shalat, tilawah Qur’an, sedekah semua serba intensif. Semangat itu sejalan dengan kemuliaan Ramadan yang penuh keberkahan. Bulan itu ibarat pelatihan rohani untuk mendekatkan diri pada Sang Khalik.
Tapi apa yang terjadi setelahnya? Ini pertanyaan yang harus kita tujukan pada diri sendiri. Apakah semangat itu bertahan? Atau kita kembali pada ritme lama, ibadah seadanya? Apakah buah takwa dari puasa Ramadan benar-benar kita rasakan? Hanya kita yang bisa menjawabnya. Ini bahan muhasabah.
Maka, lewat khutbah ini, mari kita tilik kembali perjalanan ibadah kita di Ramadan. Jadikan itu modal dan motivasi. Agar pasca-Ramadan, grafik ibadah kita tidak turun, tapi stabil atau malah naik. Mengaca pada masa lalu penting untuk menyongsong masa depan. Allah berfirman dalam Surat Al-Hasyr ayat 18:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sebenarnya, semangat peningkatan itu sudah tersirat dari makna ‘Syawal’ sendiri. Secara bahasa, ‘Syawal’ berasal dari kata ‘syala’ yang artinya ‘meningkat’. Itu harus jadi inspirasi kita: mempertahankan grafik ibadah pasca-Ramadan. Caranya? Butuh upaya serius, yang bisa kita sebut dengan 3M: Muhasabah, Mujahadah, dan Muraqabah.
Pertama, Muhasabah. Ini soal introspeksi. Evaluasi total perjalanan ibadah kita selama Ramadan. Tanyakan pada diri: Sudah benarkah niat kita? Apa yang membuat kita semangat waktu itu? Adakah kewajiban yang kita langgar? Pertanyaan-pertanyaan jujur semacam ini akan memotivasi kita untuk memperbaiki diri. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya…” (HR. Tirmidzi).
Kedua, Mujahadah. Artinya bersungguh-sungguh. Berjuang keras untuk mempertahankan kebiasaan positif Ramadan di bulan-bulan berikutnya. Perjuangan ini tak mudah. Tantangan dari luar dan dari dalam diri sendiri pasti ada. Butuh tekad baja. Allah janjikan jalan bagi yang bersungguh-sungguh, seperti dalam Surat Al-‘Ankabut ayat 69: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami…”
Ketiga, Muraqabah. Merasa selalu diawasi oleh Allah. Kesadaran ini akan menumbuhkan kewaspadaan dan semangat taat. Ini ciri orang bertakwa. Rasulullah SAW mengajarkan: “Beribadahlah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Bukhari). Nilai muraqabah ini seharusnya sudah mengakar, karena tujuan puasa Ramadan sendiri adalah untuk mencapai ketakwaan (QS. Al-Baqarah: 183).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Demikian khutbah ini. Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah untuk mempertahankan, bahkan meningkatkan, kualitas ibadah kita setelah Ramadan. Lewat Muhasabah, Mujahadah, dan Muraqabah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Khutbah Kedua
(Surya Mahmuda)
Artikel Terkait
Umat Buddha Gelar Prosesi Tiga Langkah Sujud di Candi Borobudur Jelang Puncak Waisak 2026
Libur Nasional Juni 2026: Dua Tanggal Merah dan Potensi Long Weekend
Balita Tewas Ditusuk Belasan Kali di Bekasi, Pelaku Diduga Paman ODGJ yang Tak Minum Obat
Lonjakan Volume Kendaraan di Tol MBZ Tembus 48.655 Unit saat Libur Iduladha