Wall Street Melonjak Usai Gencatan Senjata AS-Iran-Israel, Harga Minyak Anjlok

- Rabu, 08 April 2026 | 22:30 WIB
Wall Street Melonjak Usai Gencatan Senjata AS-Iran-Israel, Harga Minyak Anjlok

Wall Street dibuka dengan optimisme yang meluap pada Rabu pagi. Sentimen pasar langsung berubah setelah berita gencatan senjata antara AS, Iran, dan Israel beredar. Kabar itu meredakan ketegangan yang selama berminggu-minggu membebani psikologi investor.

Indeks S&P 500 langsung melesat 2,6 persen. Dow Jones bahkan lebih ganas, naik 1.383 poin atau setara 3 persen. Nasdaq tak ketinggalan, menguat 3,3 persen. Kenaikan ini seolah mengekor euforia yang lebih dulu terjadi di pasar Asia dan Eropa.

Di Asia, Kospi Korea Selatan melonjak hampir 7 persen, sebuah kenaikan yang fantastis. Nikkei Jepang dan Hang Seng Hong Kong juga ikut meroket. Tren serupa terlihat di Eropa, dengan DAX Jerman dan CAC 40 Prancis naik lebih dari 4 persen.

Namun begitu, ada baiknya kita tidak terburu-buru. Posisi pasar saham global sebenarnya masih berada di bawah level sebelum perang pecah akhir Februari lalu. Artinya, kerugian selama beberapa pekan terakhir belum sepenuhnya tertutup.

Pemicu utama kegembiraan ini jelas: penurunan harga minyak. Setelah sempat menembus angka USD119 per barel, Brent dan minyak mentah AS anjlok lebih dari 16 persen. Minyak AS kini menyentuh USD93,15 per barel. Penurunan drastis ini terjadi setelah Presiden Donald Trump menarik ancaman eskalasi perang, mendorong kesepakatan gencatan senjata dua pekan.

Kendati demikian, harga minyak masih relatif tinggi. Risiko konflik berlanjut tetap membayangi, membuat pasokan energi global masih rentan goncangan.

Dampaknya di dalam negeri AS sudah terasa. Harga rata-rata bensin telah melampaui USD4,16 per galon, jauh lebih mahal dibanding sebelum konflik yang harganya di bawah USD3. Kenaikan energi seperti ini berpotensi mendorong inflasi lebih lanjut, karena biaya transportasi barang pasti ikut naik.

Reaksi di lantai bursa cukup jelas. Saham-saham yang paling terbebani harga minyak justru meroket. United Airlines melonjak 13,7 persen, Delta naik 11 persen. Saham Norwegian Cruise Line juga ikut naik hampir 12 persen.

Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun menjadi 4,25 persen. Ini sinyal bahwa kekhawatiran inflasi sedikit mereda, yang berpotensi menurunkan suku bunga kredit seperti hipotek.

Tapi benarkah semua sudah aman? Banyak analis justru menyoroti sisi lain.

Takashi Hiroki, Kepala Strategi Monex, menilai sentimen memang membaik, tapi ketidakpastian masih sangat tinggi.

"Ada alasan untuk optimistis, tetapi masih terlalu dini untuk menyimpulkan karena, seperti yang Anda tahu, ini melibatkan Trump,” ujarnya.

Peringatannya masuk akal. Pola kebijakan Trump yang kerap berubah-ubah menjadi sumber kecemasan tersendiri. Ia sudah beberapa kali menetapkan tenggat untuk Iran, hanya untuk menundanya kemudian. Pola ini mengingatkan pasar pada kebijakan tarif impornya dulu yang juga penuh kejutan.

Analis lain, Tim Waterer dari KCM Trade, menggambarkan suasana pasar dengan lebih hati-hati.

“Suasana pasar masih cenderung optimisme yang hati-hati, bukan euforia penuh. Gencatan senjata hanya berlangsung dua minggu dan pasar akan mencermati apakah jalur pengiriman di Selat Hormuz benar-benar pulih serta apakah kesepakatan ini bisa mengarah pada perdamaian yang lebih permanen,” katanya.

Intinya, pasar bernapas lega hari ini. Tapi napas itu masih pendek dan waspada. Dua minggu ke depan akan jadi penentu apakah kenaikan ini bisa bertahan, atau hanya sekadar pelarian sesaat sebelum badai berikutnya datang.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar