Reaksi di lantai bursa cukup jelas. Saham-saham yang paling terbebani harga minyak justru meroket. United Airlines melonjak 13,7 persen, Delta naik 11 persen. Saham Norwegian Cruise Line juga ikut naik hampir 12 persen.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun menjadi 4,25 persen. Ini sinyal bahwa kekhawatiran inflasi sedikit mereda, yang berpotensi menurunkan suku bunga kredit seperti hipotek.
Tapi benarkah semua sudah aman? Banyak analis justru menyoroti sisi lain.
Takashi Hiroki, Kepala Strategi Monex, menilai sentimen memang membaik, tapi ketidakpastian masih sangat tinggi.
Peringatannya masuk akal. Pola kebijakan Trump yang kerap berubah-ubah menjadi sumber kecemasan tersendiri. Ia sudah beberapa kali menetapkan tenggat untuk Iran, hanya untuk menundanya kemudian. Pola ini mengingatkan pasar pada kebijakan tarif impornya dulu yang juga penuh kejutan.
Analis lain, Tim Waterer dari KCM Trade, menggambarkan suasana pasar dengan lebih hati-hati.
Intinya, pasar bernapas lega hari ini. Tapi napas itu masih pendek dan waspada. Dua minggu ke depan akan jadi penentu apakah kenaikan ini bisa bertahan, atau hanya sekadar pelarian sesaat sebelum badai berikutnya datang.
Artikel Terkait
BI Sebut Ruang Turunkan Suku Bunga Makin Sempit Imbas Gejolak Global
PT Asia Pramulia Beralih ke Impor Bahan Baku Akibat Konflik Timur Tengah
AISA Rencanakan Kuasi Reorganisasi untuk Hapus Akumulasi Kerugian Rp2,7 Triliun
OJK Ingatkan Galbay dari Pinjol Rusak Masa Depan Keuangan