BI Sebut Ruang Turunkan Suku Bunga Makin Sempit Imbas Gejolak Global

- Kamis, 09 April 2026 | 01:00 WIB
BI Sebut Ruang Turunkan Suku Bunga Makin Sempit Imbas Gejolak Global

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo punya kabar yang mungkin bikin pasar sedikit menahan napas. Ruang untuk memotong suku bunga acuan, atau BI Rate, ke depannya disebutnya semakin sempit. Sinyal ini dia sampaikan dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Rabu (8/4/2026).

“Mengenai suku bunga, BI Rate kami pertahankan di 4,75 persen,” ujarnya.

Namun begitu, dia langsung menambahkan catatan penting. “Namun, ke depan ruang penurunannya kemungkinan semakin tertutup dan kami harus menyikapinya dengan menjaga stabilitas.”

Ini menarik. Sebab sepanjang 2025, BI terbilang cukup agresif menurunkan suku bunga. Tercatat tiga kali pemotongan hingga akhirnya bertengger di level 4,75 persen seperti sekarang. Tapi situasinya berubah. Apa pasal?

Menurut Perry, dunia lagi tidak karuan. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran di Timur Tengah menciptakan ketidakpastian global yang luar biasa. Dampaknya langsung terasa di pasar keuangan. Imbal hasil surat berharga pemerintah AS (US Treasury) melonjak, didorong oleh membengkaknya defisit fiskal Negeri Paman Sam untuk membiayai kebutuhan militer.

“Adanya perang di Timur Tengah menyebabkan harga minyak global dan yield meningkat. Hal ini dipicu oleh kenaikan defisit fiskal Amerika Serikat, termasuk untuk anggaran perang, dan akan berdampak ke Indonesia,” jelas Perry.

Nah, kenaikan yield di pasar global itu bukan main-main efeknya. Tekanannya langsung menghantam pasar keuangan domestik dan tentu saja, nilai tukar Rupiah. Bank sentral pun mau tak mau harus lebih waspada.

Masalahnya nggak cuma di situ. Ada efek sistemik lain yang mengkhawatirkan: capital outflow. Dengan situasi yang mencekam, para investor cenderung bermain aman. Mereka menarik dana dari pasar negara berkembang seperti Indonesia, lalu memindahkannya ke aset-aset yang dianggap ‘safe haven’ atau lebih aman di pasar global.

Lanskap ekonomi dunia tahun 2026 juga diproyeksi makin suram. Pertumbuhan dikoreksi turun tipis jadi 3,1 persen. Di sisi lain, inflasi global justru diperkirakan melonjak dari 3,8 persen ke 4,1 persen. Kombinasi ini bikin bank-bank sentral utama dunia, termasuk The Fed, kemungkinan besar akan berpikir dua kali untuk memangkas suku bunga mereka.

“Secara umum kebijakan monitor global itu akomodatif, tapi tingkat kecepatan penurunan suku bunganya lebih lambat,” kata Perry merangkum situasi.

Jadi, intinya jelas. Di tengah badai ketidakpastian global ini, BI memilih untuk bersikap hati-hati. Stabilitas jadi kata kunci. Dan langkah ekspansif lewat penurunan suku bunga, untuk sementara, mungkin harus ditahan dulu.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar