Wall Street Terbelah di Tengah Ketegangan AS-Iran dan Lonjakan Saham Nvidia

- Senin, 01 Juni 2026 | 23:40 WIB
Wall Street Terbelah di Tengah Ketegangan AS-Iran dan Lonjakan Saham Nvidia

Wall Street dibuka dengan pergerakan beragam pada Senin (1/6/2026) setelah awal sesi yang lebih rendah, saat investor mencermati dua faktor utama: kemunduran diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran serta kenaikan saham Nvidia yang didorong oleh peluncuran prosesor canggih terbarunya. Raksasa pembuat chip kecerdasan buatan itu mengumumkan prosesor baru yang dirancang khusus untuk PC, sebuah langkah yang semakin memicu antusiasme terhadap sektor AI yang selama ini membantu pasar ekuitas bertahan dari tekanan perang Iran dalam beberapa pekan terakhir.

Pada pukul 09.43 waktu setempat, indeks acuan S&P 500 tercatat naik 0,1 persen ke level 7.582,75 poin. Sementara itu, NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi bertambah 0,2 persen menjadi 27.021,30 poin. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average yang berisi saham-saham unggulan justru turun 0,3 persen ke posisi 50.887,53 poin. Pergerakan ini terjadi setelah indeks utama di Wall Street mencatat rekor penutupan tertinggi baru pada sesi sebelumnya, sekaligus mengakhiri bulan dan pekan dengan penguatan. Hasil keuangan Dell yang solid turut menopang reli pada Jumat lalu, terutama setelah perusahaan menaikkan perkiraan laba dan pendapatan tahunannya.

Namun, prospek kesepakatan antara AS dan Iran kembali terhambat. Militer AS melaporkan telah membombardir situs radar dan kendali drone di Iran sebagai respons atas tindakan Teheran yang menembak jatuh drone Amerika pada akhir pekan. Iran pun mengonfirmasi telah melancarkan serangan balasan lebih lanjut, sementara Kuwait menyatakan telah mencegat tembakan drone dan rudal. Di tempat lain, Israel memperluas pendudukan di sebagian wilayah Lebanon setelah peluncuran drone oleh militan Hizbullah yang bersekutu dengan Iran.

Kantor Berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa tim negosiasi Teheran menangguhkan "dialog dan pertukaran teks melalui mediator" dengan AS. Langkah ini didasarkan pada aksi militer yang berkelanjutan di Lebanon serta pelanggaran gencatan senjata yang sedang berlangsung dengan Washington di semua lini. Iran juga mengancam akan "sepenuhnya memblokir" Selat Hormuz yang menjadi jalur vital bagi pasokan energi global.

Di tengah ketegangan itu, Presiden AS Donald Trump menekankan keyakinannya bahwa Iran masih ingin mencapai kesepakatan. Kedua pihak terus bernegosiasi mengenai poin-poin krusial, terutama ambisi nuklir Teheran. Trump saat ini sedang meninjau usulan nota kesepahaman yang dilaporkan akan memperpanjang gencatan senjata, memulihkan pelayaran di Selat Hormuz, serta menawarkan kerangka kerja untuk membahas program nuklir Iran.

Sementara itu, harga minyak mentah Brent kembali melonjak pada Senin. Kenaikan ini semakin cepat setelah laporan Tasnim mengenai penangguhan negosiasi. Meskipun potensi perpanjangan gencatan senjata sempat menahan harga minyak di bawah puncak terbaru di atas 100 dolar AS per barel, kontrak Brent tetap berada jauh di atas level sebelum perang. Para analis di Vital Knowledge berpendapat bahwa hal ini mencerminkan keyakinan pasar bahwa aktivitas pengiriman di Selat Hormuz kemungkinan tidak akan pulih dalam waktu dekat, meskipun kesepakatan tercapai. Cengkeraman Iran atas jalur tersebut diperkirakan akan mempertahankan premi risiko geopolitik di pasar minyak.

Harga minyak telah menjadi fokus utama investor sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari. Penutupan efektif Selat Hormuz, yang menjadi jalur bagi seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia, mendorong kenaikan harga energi dan memicu kekhawatiran akan lonjakan tekanan inflasi global. Ekspektasi pun meningkat bahwa bank sentral dapat merespons dengan menaikkan suku bunga. Emas, sebagai aset yang tidak menghasilkan imbal hasil, cenderung melemah dalam lingkungan suku bunga tinggi, sementara dolar AS sedikit menguat karena dipandang sebagai aset aman di tengah ketidakpastian perang.

Di luar ketegangan geopolitik, saham grup pembuat chip seperti Intel, AMD, dan Qualcomm justru mengalami penurunan setelah Nvidia meluncurkan prosesor baru untuk platform Windows Microsoft. Prosesor ini akan digunakan dalam jajaran laptop dan PC desktop, menghadirkan pesaing baru di pasar PC AI. Saham Nvidia sendiri naik 3,9 persen setelah pembukaan pasar, sementara saham perangkat lunak, terutama Microsoft, juga mencatat kenaikan.

CEO Nvidia, Jensen Huang, mengumumkan jajaran "chip super" baru bernama RTX Spark saat pidato utama di konferensi COMPUTEX di Taiwan. RTX Spark akan dilengkapi prosesor N1X yang dikembangkan bersama Microsoft dan dirancang oleh perusahaan Taiwan MediaTek, dengan basis platform Arm. Huang menegaskan bahwa chip tersebut dirancang khusus untuk menjalankan agen kecerdasan buatan yang dihosting secara lokal, dan Nvidia telah berkolaborasi dengan Windows dalam pengembangan platform perangkat lunaknya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar