PAM JAYA Tutup Filling Station dan Tertibkan Master Meter Ilegal Tekan Kehilangan Air

- Selasa, 21 Juli 2026 | 20:50 WIB
PAM JAYA Tutup Filling Station dan Tertibkan Master Meter Ilegal Tekan Kehilangan Air

PAM JAYA mengambil langkah tegas dengan menutup seluruh filling station atau fasilitas pengisian air bersih untuk mobil tangki yang sebelumnya dikelola pihak lain. Fasilitas itu kini hanya beroperasi dalam kondisi darurat dan dikelola langsung oleh perusahaan daerah tersebut. Langkah ini merupakan bagian dari upaya menekan angka Non-Revenue Water (NRW) yang saat ini berkisar 44-45 persen.

Direktur Utama PAM JAYA Arief Nasrudin mengatakan filling station yang sebelumnya dijual kepada masyarakat telah ditutup seluruhnya. "Filling station kita, itu hanya buat layanan ketika ada emergensi, dan dikelola oleh PAM, tidak lagi dikelola oleh koperasi atau siapa pun," ujarnya dalam kunjungan ke fasilitas PAM JAYA, Selasa (21/7/2026).

Selain menutup filling station, PAM JAYA juga menertibkan master meter atau meteran induk ilegal di Jakarta Utara dan Jakarta Barat yang sebelumnya dikelola mitra. Arief menyebut dari sejumlah titik yang ditertibkan, tersisa tiga titik yang masih menjadi tantangan berat untuk diselesaikan.

Arief menjelaskan bahwa pihaknya kehilangan komersial sekitar 20 persen dari total NRW sebesar 45 persen. Penambahan sekitar 3.000 sambungan baru seharusnya secara matematis dapat menurunkan NRW, namun realisasinya masih bertahan di angka 44 persen. "Saya belum bisa justify dengan kondisi, karena survei ulang belum dilakukan lagi sejak 2024 disebabkan biayanya yang mahal," ungkap Arief.

Berdasarkan PermenPU Nomor 18/PRT/M/2007, NRW terbagi dalam tiga kategori. Pertama, konsumsi resmi tak berekening yang mencakup air untuk mobil tangki, program Kartu Air Sehat (KAS), flushing jaringan, dan perbaikan kebocoran. Kedua, kehilangan komersial yang meliputi sambungan ilegal, pencurian air, meter pelanggan tidak akurat, kesalahan pembacaan meter, hingga kesalahan billing. Ketiga, kehilangan fisik yang mencakup kebocoran pipa transmisi, kebocoran pipa distribusi, serta air pada pipa dan reservoir jaringan.

Arief menambahkan NRW turut dipengaruhi pola konsumsi musiman, seperti periode Ramadan, Lebaran, dan tahun baru, yang membuat NRW cenderung meningkat pada semester pertama sebelum kembali turun di akhir tahun.

Untuk menekan NRW lebih jauh, PAM JAYA berencana mengganti sekitar 13.000 pipa se-DKI Jakarta dengan estimasi kebutuhan dana mencapai Rp 22,8 triliun. Rencana tersebut akan melalui tahap market sounding pada Desember mendatang.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags