Wall Street kembali digoyang ketegangan geopolitik. Pada pembukaan Selasa (7/4/2026), bursa saham AS langsung berwarna merah, mencerminkan kecemasan investor yang kian menjadi. Pemicunya jelas: tenggat waktu dari Presiden Donald Trump kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz hampir habis, dan respons dari Teheran sama sekali tidak menggembirakan.
Suasana makin panas setelah AS dilaporkan menyerang target militer Iran di Pulau Kharg. Pulau itu bukan sembarang tempat, melainkan pusat ekspor minyak mereka. Sebagai balasan, Iran tak lagi mau menahan diri. Mereka mengancam akan menyerang infrastruktur negara-negara Teluk.
Belum cukup, ada ancaman lain yang menggantung. Iran juga memperingatkan soal potensi penutupan jalur pelayaran Bab el-Mandeb jika situasi terus memburuk. Semua ini terjadi dalam hitungan jam menuju batas waktu yang ditetapkan Trump.
Menurut Chris Zaccarelli, Chief Investment Officer Northlight Asset Management, pasar sedang menyadari sesuatu yang pahit.
“Apa yang terlihat dari reaksi pasar adalah pengakuan bahwa akhir konflik tidak sedekat yang diharapkan,” katanya.
Dia menambahkan, eskalasi serangan dan retorika dari kedua belah pihak membuat pelaku pasar berada dalam posisi tidak nyaman dan meningkatkan risiko skenario yang lebih buruk.
“Konflik ini kemungkinan besar akan berlanjut dengan serangan atau peningkatan retorika dari kedua sisi yang membuat pasar kembali gelisah,” ujarnya.
Tekanan terasa kuat di sektor teknologi. Indeks teknologi S&P 500 anjlok 1,7 persen. Apple jadi penyumbang duka terbesar, sahamnya terjun bebas 3,8 persen dan memberatkan ketiga indeks utama. Untungnya, ada secercah cahaya dari Broadcom. Sahamnya melonjak 3 persen setelah perusahaan itu mengikat kesepakatan jangka panjang dengan Google untuk urusan chip AI. Itu sedikit meredam pelemahan.
Di sisi lain, sektor energi justru menikmati situasi yang serba tak pasti ini, menguat 1,8 persen. Ada juga kejutan dari saham UnitedHealth yang melesat 7,7 persen, membantu menahan laju penurunan Dow Jones. Kenaikan ini dipicu keputusan pemerintah AS yang menaikkan pembayaran untuk program Medicare Advantage. Saham Humana dan CVS Health ikut merasakan imbas positifnya, masing-masing naik 4,5 persen dan 3,7 persen.
Pada pukul 10.08 waktu setempat, kerugian sudah terlihat jelas. Dow Jones merosot 0,88 persen ke 46.261,01. S&P 500 melemah 0,99 persen ke 6.546,61. Sementara Nasdaq, yang penuh dengan saham teknologi, terpukul paling dalam dengan koreksi 1,45 persen ke 21.677,16.
Padahal, semangat pasar sebelumnya masih cukup baik. Wall Street ditutup menguat pada Senin, melanjutkan reli empat hari berturut-turut untuk S&P 500 dan Nasdaq. Kala itu, investor masih mencermati perkembangan konflik sambil bersiap menyambut musim laporan keuangan.
Kini, semua mata tertuju pada data inflasi mendatang. Kenaikan harga minyak akibat konflik ini pasti akan memberi tekanan harga baru. Perang dengan Iran ini jelas mempersulit pekerjaan The Federal Reserve. Di tengah kekhawatiran inflasi yang bisa kembali merayap naik, prospek suku bunga jadi makin ruwet untuk diprediksi.
Artikel Terkait
Kemenkeu Juarai Turnamen Catur Antar-Emiten dan Kementerian di BEI
Prospek Bank Syariah Cerah di Tengah Tekanan Pasar Modal, Bisnis Emas dan Haji Jadi Motor Pertumbuhan
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.881 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Fiskal Domestik dan Ketidakpastian Moneter Global
KWT Mawar 8 di Tangerang Jaga Kualitas Sayur Hidroponik, Utamakan Mutu Dibanding Volume Panen