Suasana di Kementerian Luar Negeri Jakarta Pusat, Kamis siang (16/4), terasa tegang namun terkendali. Di tengah berita-berita memanas dari Timur Tengah, Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah, tampil memberikan penjelasan. Fokusnya satu: keselamatan ratusan Warga Negara Indonesia yang berada di Lebanon.
Heni tak menampik fakta bahwa serangan Israel ke wilayah Lebanon kian meningkat. Situasinya memang mencekam. Namun, dari data yang dihimpun Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beirut, seluruh WNI dilaporkan dalam kondisi aman. "Sampai saat ini dapat dikonfirmasikan bahwa seluruh WNI yang berada di Lebanon dalam keadaan aman," tegas Heni dalam konferensi persnya.
Meski begitu, kata "waspada" tak boleh ditanggalkan. Pemerintah, lewat KBRI di lapangan, akan terus mencermati perkembangan keamanan. Langkah-langkah antisipasi juga disiapkan, untuk berjaga-jaga.
"Tentunya KBRI terus memantau apabila sewaktu-waktu kondisi semakin buruk. Kontijensi kemudian tetap disiapkan," imbuhnya.
Lalu, berapa sebenarnya jumlah WNI di sana? Heni membeberkan datanya. Total ada 934 orang. Mayoritas, tepatnya 756 personel, adalah pasukan TNI yang tergabung dalam misi perdamaian PBB, UNIFIL. Sisanya, 178 orang, adalah warga sipil.
Mereka yang sipil ini beragam latarnya. Ada pelajar, ada juga yang merupakan WNI yang menikah dengan penduduk Lebanon dan telah menetap di sana. Untuk kelompok inilah pemantauan dilakukan ekstra ketat.
Jadi, pesannya jelas. Keamanan WNI jadi prioritas. Kabar baiknya, untuk saat ini, semua baik-baik saja. Tapi mata dan telinga pemerintah tetap terbuka lebar, mengikuti setiap gelombang ketegangan yang mungkin datang dari Lebanon.
Artikel Terkait
LRT Jabodebek Desak Pemkot Bekasi Sediakan Angkutan Feeder ke Stasiun
BPJT: Implementasi Sistem Bayar Tol Tanpa Berhenti (MLFF) Masih Butuh Proses Adaptasi
Indonesia Amankan Pasokan Minyak Mentah dari Rusia hingga Akhir Tahun
Pemerintah Tegaskan Harga BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir Tahun 2026