Di tengah ketegangan global yang mengencang, terutama di kawasan Timur Tengah, kabar baik datang dari Moskow. Indonesia berhasil mengamankan pasokan minyak mentah dari Rusia. Ini adalah hasil dari serangkaian pembicaraan intensif antara pejabat kedua negara, yang dimulai dari level tertinggi.
Pertemuan antara Menteri ESDM Bahlil Lahdalia dan koleganya dari Rusia, Sergey Tsivilev, pada Selasa lalu di Moskow, bukanlah pertemuan biasa. Pertemuan itu merupakan tindaklanjut langsung dari pembicaraan antara Presiden Prabowo Subianto dan Vladimir Putin sebelumnya. Agendanya jelas: mengamankan energi untuk Indonesia.
Setelah kembali ke tanah air, Bahlil langsung melaporkan hasilnya ke Presiden Prabowo di Istana Negara, Kamis (16/4/2026). Wajahnya tampak lega. Menurutnya, respons Rusia sangat positif dan mereka siap mendukung ketahanan energi nasional kita.
"Alhamdulillah cukup menggembirakan bahwa kita akan mendapat pasokan crude dari Rusia," kata Bahlil.
Latar belakang dari upaya diplomasi energi ini memang mendesak. Situasi dunia yang tidak menentu membuat pasokan minyak global fluktuatif. Sementara itu, kebutuhan dalam negeri kita sangat besar mencapai sekitar 1 juta barel per hari yang harus dipenuhi melalui impor. Tanpa jaminan pasokan, kita bisa dalam masalah.
Itu sebabnya, Bahlil mendapat tugas khusus dari Presiden untuk mengamankan stok minyak mentah hingga akhir tahun. Targetnya, agar kita bisa bernapas lega dan fokus meningkatkan produksi di kilang-kilang domestik.
"Bapak Presiden selalu berpikir untuk bagaimana caranya agar ketersediaan kita satu tahun itu harus tetap ada. Saya menindaklanjuti untuk crude satu tahun dari mulai bulan ini sampai dengan bulan Desember, Insyaallah sudah aman. Jadi kita enggak perlu risau, tinggal kita meningkatkan produksi dari kilang kita," ujarnya.
Tentu saja, urusan harga tak kalah penting. Bahlil menegaskan bahwa pemerintah akan berjuang mendapatkan harga terbaik, yang tidak melebihi harga pasar. Idealnya, di bawah harga pasar. Yang pasti, kepentingan nasional selalu jadi prioritas utama.
Kerja sama dengan Rusia ternyata tak berhenti di minyak mentah saja. Dalam pertemuan tersebut, juga dibahas peluang pembangunan infrastruktur energi. Rusia disebut siap membantu membangun sejumlah fasilitas penting untuk memperkuat cadangan energi nasional.
Tak hanya itu, Bahlil juga membuka pembicaraan untuk pasokan LPG. Meski untuk yang satu ini, prosesnya masih butuh perjuangan dan beberapa tahap komunikasi lagi.
"Insyaallah kita juga akan mendapat support (dukungan), tetapi yang (LPG) ini masih butuh perjuangan, masih butuh komunikasi dua atau tiga tahap dengan Rusia. Tapi kalau crude-nya saya pikir sudah hampir final," pungkasnya.
Dengan langkah ini, setidaknya ada sedikit kepastian di tengah ketidakpastian pasar energi dunia. Pemerintah tampaknya tak mau ambil risiko dan memastikan pasokan energi dalam negeri tetap terjaga.
Artikel Terkait
LPEI Suntik Rp100 Miliar Dongkrak Ekspor Industri Tekstil di Nganjuk
Gencatan Senjata 10 Hari Israel-Hizbullah Diumumkan Trump, Netanyahu Tolak Tarik Pasukan
LRT Jabodebek Desak Pemkot Bekasi Sediakan Angkutan Feeder ke Stasiun
BPJT: Implementasi Sistem Bayar Tol Tanpa Berhenti (MLFF) Masih Butuh Proses Adaptasi