Pengeluaran Jajan Warga Kota Hampir Dua Kali Lipat Desa, Papua Pegunungan Justru Paling Boros

- Minggu, 07 Juni 2026 | 18:55 WIB
Pengeluaran Jajan Warga Kota Hampir Dua Kali Lipat Desa, Papua Pegunungan Justru Paling Boros

Kebiasaan membeli makanan dan minuman siap saji, atau yang populer disebut jajan, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat Indonesia. Tingginya frekuensi konsumsi ini terlihat jelas dari data yang dirilis dalam dokumen Statistik Konsumsi Pangan 2025, yang mengukur besarnya pengeluaran penduduk untuk kelompok Makanan dan Minuman Jadi. Data tersebut tidak hanya menunjukkan angka konsumsi secara nasional, tetapi juga mengungkap perbedaan mencolok antara kebiasaan warga kota dan desa.

Secara rata-rata, pengeluaran per kapita penduduk perkotaan untuk makanan dan minuman jadi mencapai Rp294.188 per bulan. Angka ini hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan warga di pedesaan yang hanya mengeluarkan Rp181.387 per bulan dalam periode yang sama. Perbedaan ini mencerminkan akses dan gaya hidup yang berbeda antara kedua wilayah, di mana kemudahan mendapatkan jajanan di perkotaan tampaknya mendorong pengeluaran yang lebih besar.

Di sisi lain, data tersebut juga mengungkap preferensi nasional terhadap jenis jajanan tertentu. Gorengan muncul sebagai primadona yang tak tergantikan, menempati posisi teratas sebagai jajanan favorit masyarakat Indonesia. Popularitasnya yang merata dari Sabang sampai Merauke menjadikan gorengan sebagai camilan lintas daerah dan kelas sosial.

Namun, temuan yang paling menarik justru berkaitan dengan peta pengeluaran tertinggi. Ibu kota Jakarta, yang kerap diasosiasikan dengan biaya hidup tinggi dan konsumsi modern, ternyata tidak menduduki peringkat pertama dalam hal pengeluaran untuk jajan. Posisi puncak justru ditempati oleh Provinsi Papua Pegunungan, sebuah fakta yang membalikkan asumsi umum tentang pola konsumsi di Indonesia.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar