Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp18.096 per Dolar AS, Daya Beli di Dalam Negeri Tak Sebanding dengan Beban Utang Luar Negeri

- Sabtu, 06 Juni 2026 | 16:00 WIB
Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp18.096 per Dolar AS, Daya Beli di Dalam Negeri Tak Sebanding dengan Beban Utang Luar Negeri

Pernahkah membayangkan uang Rp18.000 yang di Indonesia bisa membeli seporsi nasi Padang, secangkir kopi di kedai pinggir jalan, atau dua kali perjalanan angkutan umum, ternyata nilainya hanya setara dengan satu dolar Amerika Serikat? Pada penutupan perdagangan 5 Juni 2026, nilai tukar rupiah tercatat berada di kisaran Rp18.096 per dolar AS. Angka tersebut menjadi cermin betapa jauh daya tukar mata uang Indonesia tertinggal dari negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu.

Untuk mendapatkan satu dolar AS, masyarakat Indonesia harus merogoh kocek lebih dari Rp18.000. Bayangkan dua orang memasuki sebuah toko: satu membawa uang satu dolar di Amerika Serikat, sementara yang lain membawa Rp18.000 di Indonesia. Uang satu dolar di Amerika mungkin hanya cukup untuk membeli sebotol air mineral. Namun, Rp18.000 di Indonesia masih dapat membeli secangkir kopi, seporsi makan siang murah, atau kebutuhan kecil lainnya.

Sekilas, kondisi ini tampak menguntungkan. Kita merasa Rp18.000 masih memiliki daya beli yang cukup di dalam negeri. Namun, persoalannya bukan pada apa yang bisa dibeli di Indonesia, melainkan seberapa mahal biaya yang harus dibayar ketika Indonesia bertransaksi dengan dunia. Dampaknya juga terasa pada utang luar negeri. Bayangkan pemerintah atau perusahaan memiliki utang sebesar satu juta dolar AS. Jumlah utangnya memang tidak bertambah, tetap satu juta dolar. Akan tetapi, karena nilai tukar rupiah melemah, jumlah rupiah yang harus disiapkan untuk membayar utang tersebut menjadi lebih banyak. Dengan kata lain, tanpa menambah utang sepeser pun, beban pembayaran dalam rupiah bisa membengkak hanya karena kurs rupiah terus turun.

Pelemahan rupiah dapat dianalogikan sebagai ember yang sedang diisi air. Air yang masuk adalah hasil ekspor, investasi, dan devisa negara. Sementara air yang keluar adalah pembayaran impor, utang luar negeri, dan arus modal yang meninggalkan Indonesia. Ketika air yang keluar lebih banyak daripada yang masuk, permukaan air dalam ember akan turun. Dalam konteks ekonomi, penurunan itu tercermin dalam melemahnya nilai rupiah.

Banyak orang menganggap kurs dolar hanya urusan bank sentral, ekonom, atau pelaku pasar keuangan. Padahal, kurs merupakan cermin kekuatan ekonomi suatu negara. Masyarakat mungkin tidak melihat langsung lubang pada ember tersebut. Namun, mereka akan merasakan akibatnya ketika pemangku kepentingan menaikkan harga barang untuk mempertahankan air di dalam ember agar tidak habis.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags