Ejekan atau candaan fisik antarsiswa sering dianggap remeh oleh orang tua. Padahal, tindakan yang kerap dilabeli sebagai "namanya juga anak-anak" itu bisa menjadi awal perundungan yang berdampak buruk bagi mental korban. Tidak semua anak memiliki kekuatan mental yang sama dalam menghadapi tekanan. Ketika anak terus-menerus ditekan tanpa mendapatkan perlindungan atau tempat mengadu, ia akan merasa berjuang sendirian. Rasa kecewa yang menumpuk tanpa solusi bisa membawa anak sampai pada batas akhir kesabarannya.
Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menunjukkan 46,1% kekerasan anak terjadi di lingkungan rumah dan sekolah. Salah satu contoh nyata adalah kasus viral seorang siswa di Padang yang nekat meledakkan petasan karena dendam di-bully. Kasus ini membuktikan temuan riset Turner (2024) bahwa korban perundungan yang merasa diabaikan oleh guru atau orang tua bisa nekat menyerang balik demi melindungi diri.
Sebaliknya, ketika orang-orang di sekitar tidak peka, korban cenderung memendam perasaannya hingga akhirnya meledak dalam tindakan nekat. Berikut beberapa alasan mengapa korban bullying bisa nekat membalas dendam yang perlu disadari lingkungan sekitar.
Kehilangan Kesabaran karena Terus Dipojokkan
Saat anak kehilangan kesabaran karena terus dipojokkan teman-temannya, mereka merasa stres karena tidak punya kekuatan membela diri. Rasa sakit hati yang dipendam lama-lama berubah menjadi amarah besar. Ketika anak sudah tidak kuat menahan beban itu, amarahnya pecah dalam bentuk tindakan menyerang balik pelaku demi menghentikan semuanya.
Meminta Anak untuk Selalu Mengalah
Sering kali, orang dewasa meminta anak untuk selalu mengalah dengan kalimat "Udah kamu ngalah aja ya" atau "Jangan dimasukkin ke dalam hati". Nasihat untuk selalu sabar ini bukannya menyelesaikan masalah, tapi justru membuat anak merasa sendirian dan tidak ada yang membela. Karena merasa aturan atau pihak sekolah tidak bisa melindungi mereka, anak-anak ini akhirnya nekat mengambil jalan pintas dengan mencari keadilan sendiri lewat cara ekstrem.
Menganggap Sepele Aduan Anak
Banyak korban bullying yang sudah mencoba mengadu, namun lingkungan sekitar justru menganggap sepele aduan anak tersebut ke guru atau orang tua. Laporan jujur dari anak ini sering dianggap masalah sepele, kenakalan biasa, atau angin lalu. Ketika anak merasa tempat teraman untuk mengadu sudah tertutup, mereka tidak melihat pilihan lain selain menyelesaikan masalah itu sendiri dengan kekerasan fisik demi melindungi harga diri.
Teror Digital yang Mengikuti Sampai ke Rumah
Zaman sekarang, dampak buruk bullying bisa berupa teror digital yang mengikuti sampai ke rumah dan tidak berhenti begitu bel pulang sekolah berbunyi. Grup WhatsApp kelas atau media sosial membuat aksi bullying terus berjalan selama 24 jam. Siang hari mereka disindir secara fisik di sekolah, malamnya akun media sosial masih diteror komentar jahat. Tekanan bertubi-tubi tanpa henti inilah yang membuat anak stres berat hingga nekat melakukan tindakan ekstrem agar teror berhenti.
Nilai Sekolah yang Mendadak Anjlok
Dampak lain yang jarang disadari orang tua adalah nilai sekolah yang mendadak anjlok akibat lingkungan belajar yang tidak aman. Jika setiap hari pikiran anak dipenuhi rasa takut bertemu pelaku bullying, fokus belajar mereka hilang total. Efeknya, nilai tugas atau ujian yang tadinya bagus bisa menurun drastis. Anak juga jadi sering bolos dan bengong di kelas. Kalau sudah begini, jangan langsung cap anak malas. Bisa jadi, pikiran mereka sudah terlalu lelah karena setiap hari harus menahan rasa cemas dan stres sendirian di sekolah.
Peran Orang Tua dan Sekolah dalam Mencegahnya
Kolaborasi antara orang tua dan sekolah menjadi kunci utama agar kasus bullying tidak berakhir fatal. Sebagai orang tua, kita tidak boleh cuek dan menganggap sekolah anak selalu aman. Jika anak mulai menunjukkan perubahan sikap, seperti malas berangkat sekolah, mendadak pendiam, atau gampang marah, segera ajak mereka ngobrol santai dari hati ke hati. Dengarkan dulu semua curhatan mereka sampai tuntas tanpa perlu langsung menceramahi atau menyalahkan anak.
Di sisi lain, pihak sekolah harus membangun sistem pengaduan yang aman dan responsif. Guru wajib tegas menindak setiap aksi ejekan antarsiswa, sehingga korban merasa dilindungi oleh hukum sekolah dan tidak perlu nekat mencari keadilan sendiri dengan kekerasan.
Pada akhirnya, mendengarkan cerita anak dengan tulus adalah langkah awal terbaik untuk meredam rasa sakit hati mereka. Kita tidak perlu menjadi orang tua sempurna, tetapi cukup tunjukkan bahwa rumah adalah tempat berlindung paling aman tanpa menghakimi. Mari pelan-pelan rangkul anak kita agar mereka tahu bahwa seberat apa pun masalah di sekolah, mereka selalu punya tempat pulang yang penuh kasih sayang.
Artikel Terkait
Pelajar Bawa Bom Rakitan ke MAN 3 Padang, Diduga Akibat Bullying
Pigai Akui Jadi Korban Rasisme di Medsos, Sesalkan Aparat Tak Bertindak
Pelajar Bawa Bom Rakitan ke Sekolah Ternyata Korban Bullying, Menteri HAM Desak Pemberantasan Perundungan
Pengeroyokan Maut di Nganjuk, 29 Tersangka Ditetapkan—Mayoritas Anak-Anak