DHAKA Situasi global yang memanas benar-benar memaksa sejumlah negara mengambil langkah tak biasa. Termasuk Bangladesh. Di sini, universitas-universitas kini sepi. Gerbangnya terkunci, ruang kelas gelap. Ini semua bagian dari kebijakan darurat pemerintah untuk menghemat listrik dan bahan bakar, yang pasokannya terancam buntut perang di Timur Tengah.
Bukan cuma kampus negeri dan swasta yang diliburkan. Libur Idul Fitri pun dimajukan. Tujuannya jelas: mengurangi beban listrik nasional secara signifikan. Bayangkan saja, kampus itu rakus energi. Dari asrama, AC, sampai laboratorium, semuanya menyedot daya besar.
“Keputusan ini diambil untuk mengurangi konsumsi listrik dan bahan bakar dengan mempertimbangkan situasi global saat ini,”
Begitu bunyi pernyataan resmi Kementerian Pendidikan Bangladesh, Senin (9/3/2026).
Sebenarnya, sekolah-sekolah sudah lebih dulu diliburkan sejak Ramadan mulai. Jadi bisa dibilang, hampir seluruh aktivitas pendidikan di negara itu terpaksa berhenti sementara. Tapi langkahnya lebih jauh lagi. Pemerintah juga meminta sekolah internasional dan bimbingan belajar swasta ikut menutup operasi selama bulan puasa ini.
Di sisi lain, kelangkaan ini memicu kepanikan. Sejak Jumat lalu, antrian panjang terlihat di SPBU. Menanggapi itu, pemerintah langsung memberlakukan penjatahan pembelian bahan bakar. Wajar sih, sebab hampir 95 persen kebutuhan energi Bangladesh bergantung pada impor. Mereka sangat rentan dengan gejolak pasar dan gangguan pasokan.
Artikel Terkait
Warga Bekasi Diingatkan: Imsak Kabupaten 04.31 WIB, Kota 04.32 WIB
Kiper Ajax Maarten Paes Buka Suara soal Ledakan Emosi Usai Kekalahan dari Groningen
Motif Ekonomi Diduga Jadi Pemicu Pembunuhan Istri Siri di Depok
Jadwal Imsak dan Salat di Bogor Hari Ini, Imsak Pukul 04.33 WIB