Petani Sawit Sambut Positif Langkah Menteri Amran Pulihkan Harga TBS, Harap Pemulihan Merata

- Selasa, 09 Juni 2026 | 00:00 WIB
Petani Sawit Sambut Positif Langkah Menteri Amran Pulihkan Harga TBS, Harap Pemulihan Merata

Langkah cepat Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam mengawal pemulihan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit mendapat sambutan positif dari para petani di sejumlah daerah. Respons ini mengemuka dalam Rapat Koordinasi Pengembangan dan Upaya Stabilisasi Harga TBS Kelapa Sawit yang digelar di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (8/6/2026). Dalam forum tersebut, para petani mengakui bahwa harga TBS mulai menunjukkan perbaikan, meskipun mereka menekankan perlunya pengawalan agar pemulihan berlangsung secara merata.

Perwakilan petani dari berbagai sentra sawit, mulai dari Sumatera Selatan, Lampung, Sumatera Utara, hingga Banten, menyampaikan kondisi riil di lapangan. Mereka juga mengungkapkan harapan agar harga TBS kembali stabil dan mampu memberikan keuntungan yang layak bagi petani. Ardiansyah Saragih, petani sawit asal Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, menjadi salah satu yang menyuarakan aspirasi tersebut.

Ia menilai kebijakan dan perhatian pemerintah terhadap persoalan harga sawit memberikan harapan baru bagi jutaan petani. “Harga sawit memang sempat turun sangat dalam, tetapi sekarang mulai naik kembali. Kami berharap hasil rapat ini membuat harga kembali ke posisi semula bahkan lebih baik lagi. Pak Menteri sangat pro terhadap masyarakat petani kecil dan kami yakin harga sawit bisa kembali meningkat,” ujar Ardiansyah.

Ardiansyah menambahkan bahwa paparan Menteri Pertanian mengenai tren kenaikan harga CPO dunia, penguatan dolar AS, dan tingginya permintaan ekspor memberikan optimisme bahwa prospek harga sawit ke depan masih cerah. “Terima kasih Bapak Menteri Pertanian yang sudah membela kami masyarakat petani kecil. Semoga apa yang kita harapkan dan Pak Menteri harapkan bisa tercapai kemakmuran petani sawit Indonesia,” tuturnya.

Sementara itu, Septriadi, petani sawit asal Sumatera Selatan, mengungkapkan bahwa harga TBS yang mengikuti acuan Dinas Perkebunan masih berada pada tingkat yang layak. Namun, ia menyoroti masih adanya petani yang terpaksa menjual hasil panennya ke tengkulak karena tidak memenuhi standar pembelian perusahaan mitra. “Kalau harga yang mengikuti standar Disbun masih layak. Untuk sawit umur lima tahun kemarin sekitar Rp3.499 per kilogram. Tetapi petani yang tidak bisa masuk ke perusahaan mitra terpaksa menjual ke tengkulak dengan harga jauh lebih rendah. Karena itu kami berharap harga bisa kembali normal seperti sebelumnya,” katanya.

Senada dengan itu, Hulibarawan dari Lampung Tengah menyampaikan bahwa harga TBS di wilayahnya saat ini sudah mencapai sekitar Rp3.200 per kilogram, mendekati harga standar provinsi sebesar Rp3.350 per kilogram. “Kami sudah cukup nyaman dengan kondisi saat ini. Namun kami berharap harga sawit tetap distabilkan karena beberapa waktu lalu sempat turun mendadak hampir Rp1.000 per kilogram,” ungkapnya.

Di sisi lain, kondisi yang berbeda masih dirasakan oleh petani sawit di Banten. Aryadi, petani asal Pandeglang, menyebut harga TBS di tingkat pabrik berada di kisaran Rp2.500 per kilogram. Namun, pendapatan bersih yang diterima petani jauh lebih rendah setelah dipotong biaya panen, angkut, dan operasional lainnya. Meski demikian, ia mengakui bahwa kondisi saat ini mulai membaik dibanding beberapa waktu lalu.

“Alhamdulillah setelah gerakan Kementerian Pertanian yang mengingatkan perusahaan dan pabrik kelapa sawit untuk menaikkan harga kembali, harga TBS di Banten mulai berangsur naik. Harapan kami ke depan harganya semakin membaik seperti provinsi lain,” harapnya. Menurut Aryadi, kehadiran pemerintah sangat penting untuk memastikan petani sawit di daerah yang belum memiliki mekanisme penetapan harga yang kuat tetap memperoleh perlindungan dan kepastian usaha.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pertanian Amran menegaskan bahwa pemerintah akan terus mengawal pemulihan harga TBS. Ia memastikan bahwa manfaat kenaikan harga komoditas sawit global dapat dirasakan langsung oleh petani, dan tidak ada pihak yang mengambil keuntungan dengan mengorbankan kesejahteraan mereka. “Kita ingin membangun ekosistem sawit yang sehat. Petani sejahtera, pengusaha juga sejahtera. Tidak boleh ada yang dirugikan. Karena itu harga TBS harus kembali normal dan petani harus merasakan manfaatnya,” tegas Amran.

Rapat koordinasi yang dihadiri oleh petani, asosiasi, pelaku usaha, eksportir, perusahaan refinery, Satgas Pangan Polri, serta jajaran pemerintah daerah tersebut menjadi forum penting untuk menyerap langsung aspirasi petani. Pertemuan ini sekaligus menjadi langkah strategis untuk memastikan pemulihan harga TBS berlangsung merata di seluruh sentra sawit nasional.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags