Polemik rencana pembangunan gereja di Kelurahan Banyuanyar, Solo, yang sempat mencuat ke permukaan, memicu reaksi dari berbagai pihak. Tudingan bahwa masyarakat Muslim di kawasan tersebut intoleran pun dibantah keras oleh Mualaf Center Nasional (MCN) Aya Sofya Indonesia. Mereka menegaskan bahwa perizinan pembangunan tempat ibadah itu bahkan belum diurus sama sekali.
Ustadz Ipung Atria, salah satu pimpinan dan pendakwah utama di MCN Aya Sofya Indonesia, secara langsung mendatangi lokasi yang dimaksud. Dalam kunjungannya, ia bersilaturahmi dengan warga dan pejabat setempat, hingga tingkat RT, untuk mencari tahu kebenaran di lapangan. Hasilnya, menurut dia, jauh berbeda dengan pemberitaan yang disebarkan oleh Abu Janda.
“Kami dari Mualaf Center Nasional Aya Sofya mendatangi langsung ke lokasi kejadian. Kami bersilaturahim ke sana, langsung bertemu dengan masyarakat, dan bertemu dengan para pejabat pemerintahan, hingga mulai ke lingkup lingkungan RT sekalipun,” tulis Ustadz Ipung dalam akun Facebooknya, Jumat (7/8/2026).
Fakta di Lapangan
Berdasarkan penelusuran MCN Aya Sofya, hingga saat ini belum ada pengurusan izin untuk pembangunan gereja di Banyuanyar. Bahkan, untuk urusan surat-menyurat yang sederhana pun, kata dia, belum ada sama sekali. Hal itu diakui langsung oleh Ketua RT setempat yang rumahnya berada tepat di depan lahan yang akan dibangun.
“Kami bertanya: Apakah pernah mengurus administrasi surat-menyurat perizinan di lingkup RT? Jawab beliau: masih belum ada. Bahkan, kami bertanya: Apakah pernah kulo nuwun memberitahukan perihal rencana akan dibangunnya Gereja kepada pihak Ketua RT? Jawab beliau: juga masih belum pernah ada kegiatan kulo nuwun,” ungkapnya.
Menurut Ustadz Ipung, alur pembangunan gereja di Banyuanyar ini terkesan aneh. Administrasi surat-menyurat tidak dilakukan, namun tiba-tiba muncul pemberitaan yang memicu kontra produktif di masyarakat, bahkan hingga ke tingkat nasional dan internasional. Ia menduga hal ini memang sengaja dibuat untuk memantik isu nasional dengan tujuan potong kompas.
“Abu Janda membuat upaya playing victim ke dunia internasional, dengan menyulut pemberitaan yang menyudutkan kaum muslimin bahwa umat Islam adalah umat intoleran yang sukanya menolak pendirian Gereja,” tegasnya.
Sementara itu, Ustadz Ipung menyebut bahwa pihaknya juga bertemu dengan Lurah Banyuanyar. Ia menilai seluruh pejabat pemerintahan bersama masyarakat muslimin sebenarnya netral dan bijaksana. Mereka, kata dia, akan menerima pembangunan gereja asalkan surat perizinan telah dikerjakan dan memenuhi syarat.
Ustadz Ipung Atria sendiri merupakan tokoh yang dikenal luas dalam pembinaan mualaf di Indonesia. Ia adalah anak dari seorang pendeta dan sempat menjadi misionaris Kristen sebelum akhirnya memeluk Islam setelah melalui proses pembelajaran dan penelusuran mendalam terhadap kitab suci.