Tekanan di pasar modal nasional masih berlanjut, dan sektor perbankan menjadi salah satu yang paling terimbas. Saham-saham bank berkapitalisasi besar justru menjadi sasaran aksi jual di tengah derasnya arus modal asing yang keluar dari bursa saham domestik. Namun, di tengah situasi yang penuh tantangan ini, prospek industri perbankan syariah dinilai masih cerah berkat sejumlah mesin pertumbuhan baru yang mampu menopang ekspansi bisnis secara berkelanjutan.
Salah satu pendorong utama pertumbuhan itu berasal dari bisnis emas. Produk tabungan emas dan cicil emas kini menjadi layanan yang paling diminati masyarakat. Analis sekaligus Co-Founder Pasar Dana, Hans Kwee, menjelaskan bahwa tingginya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global dan fluktuasi pasar keuangan menjadi faktor utama di balik lonjakan permintaan tersebut.
“Salah satu pendorong utama berasal dari bisnis emas. Produk tabungan emas dan cicil emas kini menjadi salah satu layanan yang paling diminati masyarakat, seiring tingginya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global dan fluktuasi pasar keuangan,” ujar Hans dalam keterangan resminya, Jumat (30/5/2026).
Di luar emas, segmen wholesale dan korporasi mulai menjadi fokus ekspansi bank syariah. Jika sebelumnya lebih dominan bermain di sektor ritel dan konsumsi, kini bank syariah semakin agresif merambah pembiayaan proyek infrastruktur, ekosistem BUMN, hingga sektor produktif lainnya. Sementara itu, pendorong lain datang dari ekosistem haji dan umrah. Digitalisasi tabungan haji yang menyasar generasi milenial dan Gen Z mulai menunjukkan hasil positif.
Tercatat lebih dari 1,2 juta nasabah muda mulai menabung haji sejak dini. Kondisi ini menciptakan sumber dana murah atau current account saving account (CASA) yang relatif stabil bagi industri. “Sehingga strategi akumulasi beli untuk saham-saham bank syariah, khususnya di tengah momentum pertumbuhan industri yang masih kuat, jadi pilihan yang layak dipertimbangkan,” kata Hans.
Prospek cerah bisnis bank syariah saat ini sejalan dengan catatan kinerja industri pada triwulan I-2026. Di tengah tantangan ekonomi global dan ketatnya likuiditas perbankan nasional, pertumbuhan pembiayaan, dana pihak ketiga (DPK), hingga laba bank syariah tercatat masih mampu melaju di atas rata-rata industri perbankan secara umum. Mengacu pada laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pangsa pasar perbankan syariah hingga Maret 2026 telah mencapai sekitar 7,51 persen, meningkat dibandingkan posisi beberapa tahun terakhir yang berkisar di angka 7 persen.
“Kondisi ini mencerminkan meningkatnya penerimaan masyarakat terhadap layanan dan instrumen keuangan berbasis syariah,” ujar Hans.
Pertumbuhan pembiayaan bank syariah tercatat mencapai 9,82 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan konvensional yang cenderung lebih moderat. Di sisi pendanaan, pertumbuhan DPK juga masih kuat. Sebagai salah satu emiten bank syariah, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) sukses mencatat pertumbuhan DPK sebesar 17,99 persen pada triwulan I-2026. Kinerja tersebut ditopang oleh meningkatnya loyalitas nasabah serta tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap produk keuangan syariah.
Pada saat yang sama, laba bersih BSI tumbuh 17,1 persen, yang salah satunya didorong oleh lonjakan pendapatan berbasis biaya dari bisnis emas. Tren ini dinilai menjadi peluang besar bagi perbankan syariah untuk memperluas basis nasabah sekaligus meningkatkan pendapatan nonpembiayaan. Oleh Hans, saham BRIS diperkirakan memiliki target harga di kisaran Rp3.100 hingga Rp3.300 per saham. Karakternya yang defensif dengan fundamental yang relatif lebih kuat dan stabil membuat pergerakan harga sahamnya cenderung lebih lambat, sehingga relatif lebih aman bagi investor jangka menengah hingga panjang.
Artikel Terkait
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.881 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Fiskal Domestik dan Ketidakpastian Moneter Global
KWT Mawar 8 di Tangerang Jaga Kualitas Sayur Hidroponik, Utamakan Mutu Dibanding Volume Panen
IHSG Terkoreksi 0,56% dalam Sepekan, Aksi Jual Asing dan Rebalancing MSCI Tekan Saham Bank Besar
Emas Menguat ke 4.540 Dolar AS, Pulih dari Terendah Dua Bulan Ditopang Pelemahan Dolar dan Harapan Gencatan Senjata AS-Iran