BI Targetkan Omzet Rp1,5 Miliar dari Festival Ekonomi Syariah di Lombok

- Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00 WIB
BI Targetkan Omzet Rp1,5 Miliar dari Festival Ekonomi Syariah di Lombok

Bank Indonesia (BI) resmi membuka Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia (Fesyar KTI) 2026 di Lombok Epicentrum Mall, Nusa Tenggara Barat, Jumat (10/7). Ajang tahunan yang berlangsung hingga 12 Juli ini menargetkan omzet penjualan riil UMKM binaan sebesar Rp1,5 miliar dan kesepakatan pembiayaan (business matching) senilai Rp11 miliar.

Sebanyak 19 Kantor Perwakilan BI dari 22 provinsi di Indonesia Timur turut serta dalam festival ini. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari persiapan menuju Indonesia Sharia Economic and Finance Festival (ISEF) 2026 yang akan digelar di Jakarta pada Oktober mendatang.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan bahwa target tersebut sengaja ditetapkan secara terukur bagi seluruh pimpinan kantor perwakilan di kawasan timur. "Setiap acara ini, mereka semua sudah diberikan target. Jadi bukan hanya sifatnya seremonial, tetapi harus ada target nyata. Harus ada business matching yang bisa terwujud dan target omzet penjualan Rp1,5 miliar untuk 19 UMKM dengan berbagai macam produk di KTI. Ditambah lagi, kita ingin menciptakan business matching Rp11 miliar," ujarnya saat memberikan sambutan pembukaan.

Produk unggulan yang ditampilkan beragam, mulai dari halal mart yang menjual snack dan oleh-oleh halal, hingga kain tenun dengan motif khas daerah. Salah satu UMKM andalan adalah Beras Basah asal Bontang, Kalimantan Timur, yang memproduksi batik dengan corak biota laut. Ada pula Fatimah Collection dari Sulawesi Tengah yang menjual sepatu ecoprint dengan pewarnaan alami dari dedaunan.

BI memandang akselerasi ekonomi syariah sebagai langkah krusial. Mengutip State of the Global Islamic Economic Report 2025-2026, Indonesia kini berada di peringkat ke-4 dunia dalam pengembangan ekosistem ekonomi syariah. "Apakah kita puas? Kita bersyukur, Alhamdulillah kita sudah mencapai peringkat 4. Tetapi apakah cukup di situ? Belum. Kita harus terus berikhtiar karena peluangnya masih sangat besar," kata Destry.

Secara rinci, Indonesia menempati peringkat pertama pada sektor fashion Muslim, peringkat kedua pada pariwisata ramah Muslim, dan peringkat ketiga pada makanan halal. Pertumbuhan produk syariah di sektor halal value chain, seperti pertanian, makanan, dan minuman halal, melonjak 6,21 persen pada kuartal I 2026, melampaui pertumbuhan PDB nasional yang sekitar 5,6 persen.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags