Merawat Rupiah, Menjaga Martabat Negara

- Jumat, 10 Juli 2026 | 00:06 WIB
Merawat Rupiah, Menjaga Martabat Negara

Sejak awal Juni 2026, seorang pensiunan membuka toko kelontong kecil di ruang tamu rumah tipe 21-nya. Toko Harapan, begitu ia menamainya, terinspirasi dari ceramah Dr. Fahruddin Faiz yang menekankan pentingnya harapan dalam menghadapi kesulitan hidup. Rutinitas baru ini membawanya lebih dekat pada kondisi fisik uang kertas dan logam yang beredar di masyarakat.

Selama sebulan terakhir, ia mengamati bahwa banyak uang kertas dalam kondisi kusut, kotor, atau sobek, sementara uang logam sering tampak buram atau menghitam. Pecahan Rp500 tahun emisi 2003 berbahan aluminium paling sering mengalami perubahan warna akibat korosi. Sementara uang logam Rp1.000 tahun emisi 2010 dan 2016 yang terbuat dari baja berlapis nikel umumnya kehilangan kilapnya. Ibu-ibu bahkan rela memburu uang logam yang masih bersih untuk disimpan.

Kerusakan uang logam disebabkan oleh korosi akibat reaksi dengan oksigen dan kelembapan, gesekan fisik saat tersimpan di dompet atau saku, paparan bahan kimia, suhu ekstrem, hingga benturan dengan benda keras. Tak jarang uang sengaja dilubangi untuk dijadikan hiasan.

Ketergesaan Transaksi

Bank Indonesia dan akademisi menemukan bahwa masyarakat sebenarnya tahu cara merawat uang, namun pengetahuan itu belum menjadi kebiasaan. Ketergesaan saat bertransaksi membuat uang kertas sering digulung, diselipkan asal di saku, atau bahkan tercuci bersama pakaian. Akibatnya, uang menjadi lecek, sobek, atau berjamur sehingga masuk kategori Uang Tidak Layak Edar (UTLE).

Sejak 2018, Bank Indonesia mengampanyekan Prinsip 5J: Jangan Dilipat, Jangan Dicoret, Jangan Diremas, Jangan Distaples, Jangan Dibasahi. Tujuannya menjaga kualitas fisik uang agar lebih lama layak edar, memudahkan verifikasi keaslian melalui metode 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang), serta menekan biaya pencetakan uang baru. Rupiah sebagai simbol kedaulatan negara layak dihormati dengan penuh kebanggaan.

Budaya Disiplin

Di Jepang, merawat uang kertas sudah menjadi norma budaya. Masyarakatnya menghindari melipat uang secara berlebihan, banyak yang menggunakan dompet panjang (naga-zaifu) agar uang tetap lurus. Saat bertransaksi, uang diletakkan di nampan kecil (karuton) yang tersedia di meja kasir, bukan diserahkan langsung dari tangan ke tangan. Uang yang terlalu kusut akan ditolak mesin penjual otomatis.

Mereka juga hanya menggunakan uang baru untuk momen istimewa seperti pernikahan atau tahun baru, dimasukkan dalam amplop khusus sebagai bentuk penghormatan. Uang logam disimpan di dompet terpisah agar tidak merusak uang kertas. Melipat uang kertas beberapa kali sangat tidak dianjurkan secara etika.

Peran Bank Sentral

Bank sentral di berbagai negara menerapkan kebijakan ketat untuk menjaga kualitas uang beredar. Swiss National Bank secara rutin menarik uang usang dan menggantinya dengan seri baru. Reserve Bank of Australia memiliki kebijakan penggantian uang rusak hingga 80% dari ukuran aslinya, lebih lunak dibanding Bank Indonesia yang hanya mengganti jika kerusakan kurang dari ⅔ ukuran asli. Monetary Authority of Singapore bahkan menerapkan denda hingga SGD 2.000 bagi perusak uang berdasarkan Currency Act 1967.

Beberapa negara seperti Australia, Kanada, dan Inggris menggunakan bahan polimer untuk mencetak uang karena tahan air, tidak mudah lecek, dan mudah dibersihkan. Fenomena unik terjadi di Pakistan, di mana masyarakat mencuci uang kertas Rupee yang berbahan katun dan linen dengan deterjen. Praktik ini viral di media sosial pada November-Desember 2025. Selain alasan kebersihan, mencuci uang juga menjadi cara tradisional memverifikasi keaslian: uang asli tidak luntur, sedangkan uang palsu akan hancur. Kebiasaan ini terkait dengan tradisi memberikan kalung uang kertas (Note Ka Haar) kepada pengantin pria, pemberian Salami dari tamu pernikahan, dan Eidi untuk anak-anak saat hari raya.

Merawat uang secara fisik bukan sekadar soal estetika, melainkan juga ikut menjaga kestabilan ekonomi makro dan martabat negara. Kesadaran dan disiplin masyarakat menjadi kunci agar uang tetap layak edar dan simbol kedaulatan tetap terjaga.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags