Pemerintah Dorong Riset Mendalam untuk Wujudkan B60

- Selasa, 14 Juli 2026 | 21:36 WIB
Pemerintah Dorong Riset Mendalam untuk Wujudkan B60

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani, menegaskan bahwa pengembangan biodiesel 60 (B60) masih memerlukan riset yang mendalam. Hal ini disampaikannya merespons arahan Presiden Prabowo Subianto yang ingin program biodiesel terus berlanjut hingga B60.

Eniya mengajak akademisi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta berbagai universitas untuk terlibat aktif dalam penelitian tersebut. Riset ini bertujuan menemukan formulasi keekonomian B60, khususnya untuk Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), agar lebih murah dan efisien. "Itu perlu riset. Nanti saya kembali menjadi periset. Saya harap periset-periset dari ITB, BRIN, IPB, semua bisa bergabung menjadi satu untuk mencari solusi HVO yang murah," ujarnya di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (14/7).

Menurut Eniya, proses menuju B50 pun masih memerlukan riset berkelanjutan untuk menemukan formulasi yang tepat. Jika B60 dilakukan dengan menambahkan 10 persen hidrokarbon, secara keekonomian harganya masih jauh lebih tinggi dibanding B50 yang saat ini menggunakan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis kelapa sawit. "Kalau di atas 50 persen itu kombinasinya, jika mau tambah 10 persen dari hidrokarbon yang D100, harganya masih 1,5 kali lipat dari harga FAME," jelasnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo menantang jajarannya untuk segera mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan hingga B60. Ia menyampaikan hal tersebut di Tol Cikampek, Kamis (9/7). "Terima kasih Pertamina dan semua jajaranmu, teruskan! Jangan berhenti di B50. Kalau bisa B60. Bulan apa B60?" kata Prabowo.

Prabowo menjelaskan, program B50 yang sudah berjalan mampu menghemat devisa negara hingga Rp 170 triliun. Awalnya, ia sempat mendorong pengembangan hingga B100. Namun, jajaran menterinya meyakinkan bahwa dengan implementasi B50 saja, Indonesia sudah tidak perlu lagi mengimpor solar. "Bahkan pada saat itu saya mendorong ke arah B100. Tapi menteri-menteri meyakinkan saya, 'Pak, dengan B50 saja kita sudah tidak impor solar lagi dari luar negeri.' Jadi ini adalah satu prestasi bangsa yang luar biasa," tuturnya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags