Indonesia dan Vietnam resmi menandatangani Rencana Aksi untuk Pelaksanaan Kemitraan Strategis Komprehensif periode 2026-2030. Penandatanganan berlangsung dalam Sidang Komisi Bersama ke-6 di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Selasa (14/7/2026). Dokumen ini menjadi pedoman bagi kedua negara dalam memperdalam kerja sama di berbagai bidang selama lima tahun ke depan.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono menerima langsung Menlu Vietnam Le Hoai Trung di Gedung Pancasila. Rencana aksi tersebut merupakan tindak lanjut dari kesepakatan Kemitraan Strategis Komprehensif yang telah disepakati pada 2025. "Hari ini, kami menandatangani Plan of Action untuk pengimplementasian dan ini akan menjadi kerangka kerja utama yang akan membimbing kerja sama bilateral kami selama lima tahun ke depan," ujar Sugiono.
Kerja sama yang diperkuat mencakup sektor strategis seperti ketahanan pangan dan pertanian, industri berteknologi tinggi, ekonomi digital, energi, kesehatan, industri halal, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pendidikan. Di bidang politik dan keamanan, kedua menteri membahas isu perbatasan, pertahanan, keamanan maritim, pemberantasan IUUF, dan kejahatan lintas negara. "Kami menghargai kemajuan dalam implementasi perjanjian ZEE. Kami juga memperkuat komitmen di sektor maritim, penanganan IUUF, serta kejahatan lintas negara, termasuk narkotika dan psikotropika," imbuh Sugiono.
Di sektor ekonomi, kedua negara menargetkan perdagangan bilateral mencapai USD 18 miliar pada 2028. Untuk itu, kerja sama perdagangan dan investasi akan diperkuat, termasuk melalui reaktivasi Joint Committee on Economic, Scientific, and Technical Cooperation (JC-ESTC). "Kami menguatkan komitmen untuk mencapai target perdagangan bilateral sebesar 18 miliar dolar AS pada 2028," kata Sugiono.
Indonesia dan Vietnam juga sepakat mempererat hubungan antarmasyarakat lewat kerja sama kebudayaan, pendidikan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain membahas bilateral, kedua menteri bertukar pandangan mengenai isu regional dan global. Mereka menekankan pentingnya persatuan dan sentralitas ASEAN dalam menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan. Dukungan terhadap ASEAN Five-Point Consensus sebagai kerangka penyelesaian situasi di Myanmar kembali ditegaskan. Pertemuan juga membahas perkembangan di Timur Tengah dan implikasinya terhadap stabilitas, perdagangan, energi, serta ketahanan pangan.
Artikel Terkait
Vietnam Undang Prabowo dan Sugiono Lakukan Kunjungan Resmi
John Herdman Incar Duel Klasik Lawan Malaysia di Piala AFF 2026
Apindo: Relokasi Pabrik Otomotif ke Vietnam Bagian dari Konsolidasi Global, Bukan Kepergian Mendadak
Prabowo dan PM Modi Sepakat Perkuat Kerja Sama Pertahanan dan Antiterorisme