Apindo: Relokasi Pabrik Otomotif ke Vietnam Bagian dari Konsolidasi Global, Bukan Kepergian Mendadak

- Selasa, 07 Juli 2026 | 18:30 WIB
Apindo: Relokasi Pabrik Otomotif ke Vietnam Bagian dari Konsolidasi Global, Bukan Kepergian Mendadak

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai fenomena perpindahan fasilitas produksi pabrik otomotif Jepang dari Indonesia ke Vietnam bukanlah kejadian mendadak, melainkan bagian dari strategi konsolidasi korporasi multinasional. Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani menegaskan bahwa persaingan dengan Vietnam sudah berlangsung lama, dan keputusan merampingkan jumlah pabrik dari lima menjadi dua atau tiga adalah langkah efisiensi bisnis yang lumrah.

"Banyaknya investasi yang beralih ke Vietnam itu bukan hari ini, maksudnya dari dulu memang kita selalu berkompetisi dan berdaya saing dengan Vietnam. Jadi sebenarnya kalau dikatakan hari ini pindah ke Vietnam itu tidak tepat. Jadi memang sekarang banyak terjadi konsolidasi daripada multinasional. Jadi mungkin yang tadinya punya pabrik ada lima, mungkin dikonsolidasikan menjadi dua atau tiga, seperti itu," ujar Shinta di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Meski demikian, Shinta optimistis Indonesia masih memiliki daya tawar untuk mempertahankan basis produksi otomotif yang sudah ada. Namun, ia mengingatkan bahwa Indonesia perlu segera membenahi hambatan birokrasi agar daya tarik investasi tidak ketinggalan dari Vietnam.

"Kedua, dari segi daya tarik, ini yang mungkin menjadi pekerjaan rumah kita, karena World Bank juga sudah memberikan survei perbandingan Indonesia dengan negara lain dari segi investasi. Jadi kesiapan perizinan, regulasi, dan lain-lain, ini juga menjadi catatan. Memang Vietnam karena negaranya lebih kecil, juga bisa mempermudah investor untuk masuk ke sana," kata Shinta.

Untuk mengejar ketertinggalan, Apindo tengah menginisiasi proyek percontohan industrialisasi nasional bersama Bappenas dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Wilayah Jawa Tengah dipilih karena memiliki kawasan ekonomi yang bervariasi dan potensial. Proyek ini akan melakukan benchmarking langsung dengan Vietnam, membandingkan struktur biaya operasional, insentif, kemudahan berusaha, serta biaya energi, tenaga kerja, dan logistik.

"Ini kita bisa buatkan perbandingan, kita sekarang buat benchmarking. Sebenarnya apa sih yang dilakukan Vietnam? Insentif seperti apa yang mendorong investasi ke sana? Apa kemudahan-kemudahan berusaha yang disiapkan di Vietnam? Bagaimana dengan cost-nya, biaya? Kenapa cost mereka lebih rendah dibandingkan Indonesia? Apakah itu hubungannya dengan energy cost, labor cost, atau logistic cost? Ini semua harus kita perbandingkan," jelas Shinta.

Sebelumnya, isu relokasi pabrik otomotif Jepang mengemuka setelah Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyebut dua korporasi komponen otomotif asal Jepang bersiap hengkang dari Jawa Timur. Perubahan lanskap industri menuju mobil listrik turut memengaruhi keputusan tersebut.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags