Indonesia dan Singapura Sepakati Ekspor Listrik Hijau dari Kepri

- Senin, 06 Juli 2026 | 17:30 WIB
Indonesia dan Singapura Sepakati Ekspor Listrik Hijau dari Kepri

Pemerintah Indonesia dan Singapura resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk jual beli listrik hijau yang diproduksi dari Kepulauan Riau (Kepri). Listrik tersebut akan diekspor ke perusahaan BUMN Singapura, menandai langkah awal kerja sama energi lintas batas yang telah direncanakan sejak empat tahun lalu.

Kesepakatan ini merupakan salah satu dari 26 MoU yang diteken dalam pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Jakarta, Senin (6/7). Nota kesepahaman melibatkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dengan tiga perusahaan Singapura: Keppel Electric, Sembcorp Industries, dan Singapore Energy Interconnections. MoU ini akan menjadi peta jalan bagi negosiasi dan pembahasan lanjutan antar pihak.

Tujuan utama kerja sama ini adalah membuka jalan bagi pengembangan proyek interkoneksi listrik lintas batas antara Indonesia dan Singapura. Proyek ini juga diharapkan menjadi fondasi penting bagi pembangunan ASEAN Power Grid, jaringan listrik kawasan Asia Tenggara.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengatakan proyek ini bersifat jangka panjang dan diharapkan memberikan dampak yang saling menguntungkan bagi kedua negara. "Ya, dengan Keppel, Sembcorp, MOU kita untuk membangun untuk ekspor listrik, ya, dengan Danantara dan ini adalah proyek jangka panjang dan akan dipastikan ini juga memberikan dampak yang win-win lah terhadap kedua negara," ungkapnya di kompleks Istana Kepresidenan.

Rosan menjelaskan bahwa rencana ekspor listrik ke Singapura sebenarnya sudah ada sejak empat tahun lalu, namun baru ditindaklanjuti oleh Danantara berdasarkan arahan Presiden Prabowo. Proyek pembangkit hijau akan dibangun secara bertahap di Batam, Bintan, dan Karimun dengan total kapasitas 3,4 gigawatt (GW). Kapasitas tahap awal diperkirakan antara 600 megawatt hingga 1,2 GW.

"Ya, nanti salah satu lokasinya kita lihat dari situ, ya, akan pengembangan juga untuk BBK, ya, tadi, Batam, Bintan, Karimun. Totalnya sih nantinya tuh selama berapa tahun tuh 3,4 gigawatt," ungkap Rosan.

Listrik yang diproduksi akan dibeli oleh Keppel dan Sembcorp. Untuk menyalurkannya, Indonesia juga akan membangun jaringan transmisi listrik menuju Singapura. Rosan menegaskan bahwa Danantara bertindak sebagai perusahaan Indonesia, sementara Keppel dan Sembcorp sebagai off-taker karena keduanya merupakan BUMN.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari MoU yang sudah diteken tahun lalu. Saat ini, pembahasan masih berfokus pada masalah harga. "Proses tahapannya berjalan, tapi, kan, kita masih menegosiasi tentang harga dan regulasi kita, kan, memang harga itu ada di pemerintah. Kita pengen ada win-win, saling menguntungkan, tinggal di titik itu saja. Tapi saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu kok," ungkapnya.

Bahlil mengakui bahwa belum ada penetapan harga karena dirasa belum sesuai dan menguntungkan kedua belah pihak. Proyek ini mencakup pembangunan panel surya dan transmisi listrik di wilayah Kepri. "Belum win-win. Saya merasa belum win-win kalau sekarang harganya," kata Bahlil tanpa merinci angka yang masih dibahas.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags