PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) akan menggabungkan dua anak usahanya, PT Bukit Energi Investama (BEI) dan PT Bukit Energi Servis Terpadu (BEST). Dalam merger ini, BEST akan menjadi perusahaan penerima penggabungan atau surviving entity.
Langkah ini merupakan tindak lanjut arahan Danantara yang meminta BUMN melakukan penataan atau streamlining terhadap anak-anak usahanya. Tujuannya, agar PTBA lebih fokus pada bisnis inti.
“Pelaksanaan kebijakan strategis tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, memperkuat fokus pada kegiatan usaha inti perusahaan, serta memperbaiki tata kelola, melalui pengurangan duplikasi fungsi dan kegiatan usaha sejenis,” kata Corporate Secretary Division Head PTBA, Eko Prayitno, dalam keterbukaan informasi, Selasa (30/6/2026).
Penggabungan dilakukan setelah BEI dan BEST menyepakati merger melalui keputusan sirkuler yang menggantikan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Kedua perusahaan merupakan entitas yang dikendalikan PTBA.
Komposisi kepemilikan saham BEI saat ini adalah 99,6 persen oleh PTBA dan 0,40 persen oleh Yayasan Bukit Asam (YBA). Sementara BEST dimiliki 99,62 persen oleh PTBA dan 0,38 persen oleh YBA.
Proses merger melibatkan penilaian oleh Penilai Independen, Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Nirboyo Adiputro, Dewi Apriyanto, & Rekan, dengan batas penilaian per 31 Desember 2025. Nilai pasar BEI tercatat Rp389,37 miliar, sedangkan BEST Rp366,49 miliar.
Secara teknis, BEST akan menerbitkan saham baru kepada PTBA dan YBA dengan rasio konversi 1:0,3141 berdasarkan hasil penilaian. Setelah merger, PTBA diproyeksikan memiliki 99,24 persen saham BEST dan YBA menguasai 0,76 persen.
Artikel Terkait
Survei: Penilaian Anak Muda terhadap Kinerja Pemerintah Anjlok ke Titik Terendah
OJK Resmikan Merger Enam BPR di Sumatera, Aset Gabungan Tembus Rp400 Miliar
Pantai Gading Hadapi Norwegia di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026, Misi Meredam Haaland
Lima Film Rio Dewanto yang Layak Masuk Daftar Tontonan