Penilaian anak muda Indonesia terhadap kinerja pemerintah merosot ke level terendah sejak awal masa jabatan Presiden Prabowo Subianto. Hal itu terungkap dalam survei kuartalan Kawula17 untuk periode Januari–Maret 2026.
Skor penilaian umum anak muda terhadap pemerintah berada di angka 5,4 dari skala 10, turun dari 5,7 pada kuartal IV 2025. Angka ini menyamai catatan kuartal I 2025, saat pemerintahan baru dimulai. Penurunan paling tajam terjadi di sektor hak asasi manusia: skor bersih HAM yang sebelumnya 8 persen pada kuartal IV 2025 kini ambles menjadi minus 4 persen.
“Setiap ada isu besar, dampaknya langsung terasa pada penilaian dan kesadaran anak muda. Mereka tidak apatis,” ujar Co-Founder Kawula17, Maria Angelica, dalam wawancara di kanal YouTube KontraS, Senin (29/6/2026).
Survei dilakukan secara daring dengan melibatkan lebih dari 1.300 responden muda di seluruh Indonesia. Kawula17 menggunakan kerangka sampling berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang mencakup variabel gender, usia, wilayah, dan tingkat pendidikan. Riset ini dikerjakan bersama perusahaan riset pasar afiliasi mereka sehingga metodologinya dinilai terstandar.
Kekhawatiran pada HAM dan Ekonomi
Dari seluruh isu HAM, kekerasan aparat khususnya oleh kepolisian dan TNI secara konsisten menjadi kekhawatiran utama anak muda. Dalam National Benchmark Survey 2025, 48 persen responden menyatakan khawatir dengan maraknya kekerasan aparat. Pelanggaran HAM masa lalu yang tidak terselesaikan menempati posisi berikutnya.
Angel menghubungkan penurunan pada kuartal I 2026 dengan dua faktor yang bertumpuk: tekanan ekonomi akibat kenaikan harga bahan pokok selama Ramadan, serta memburuknya situasi keamanan dan HAM yang terus disorot publik. Pola serupa, menurutnya, pernah terjadi pasca demonstrasi besar Agustus 2025, ketika penilaian anak muda terhadap pemerintah juga jatuh signifikan pada kuartal III 2025.
Soal keterwakilan politik, Angel menegaskan bahwa anak muda tidak merasa diwakili oleh figur-figur yang ada, termasuk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Di tingkat partai, preferensi terhadap Gerindra pun tercatat mengalami penurunan drastis.
Meski demikian, Angel menekankan bahwa anak muda bukan kelompok yang pasif. Mereka telah memanfaatkan berbagai kanal aspirasi, dari demonstrasi jalanan hingga kampanye media sosial seperti Save Raja Ampat dan All Eyes on Papua, namun belum mendapat respons memadai dari pemerintah maupun partai politik.
“Kalau segala macam channel sudah dipakai tapi mandek, alternatif apa lagi yang bisa kita pakai? Kuncinya sekarang ada di pemerintah dan DPR untuk benar-benar mendengarkan,” kata Angel.
Artikel Terkait
Koalisi Ojol Apresiasi Perpres Perlindungan Pekerja Transportasi Online dan Pemangkasan Potongan Aplikator 8%
Prabowo Pimpin Upacara Hari Bhayangkara ke-80 di Cikeas, Lokasi Berbeda dari Tahun Sebelumnya
Prabowo Hadiri HUT ke-80 Bhayangkara di Cikeas, Terima Penghargaan Tertinggi dari Polri
Prabowo Terima Kunjungan Kenegaraan Presiden Belarus di Istana Merdeka