PT Asia Pramulia Tbk (ASPR), salah satu emiten manufaktur plastik, terpaksa mengubah arah strateginya. Mereka kini akan lebih banyak mengimpor bahan baku bijih plastik. Kenapa? Pasokan lokal lagi ketat banget. Konflik yang berkecamuk di Timur Tengah, rupanya, efeknya sampai juga ke rantai pasok global dan bikin persediaan di dalam negeri makin sulit.
Selama ini, ASPR memang lebih banyak bergantung pada pemasok dalam negeri. Tapi situasi sekarang nggak memungkinkan lagi. Arif, Direktur perusahaan, mengakui bahwa manajemen harus mencari cara lain demi menjaga roda produksi tetap berputar. Diversifikasi pemasok jadi pilihan yang nggak bisa dihindari.
“Dulu komposisinya sekitar 70 persen lokal, 30 persen impor,” jelas Arif dalam Paparan Publik insidentil, Rabu (8/4/2026).
“Tapi ya gini, dampak perang dan suplai dalam negeri yang terbatas bikin kami harus memperbanyak porsi impor.”
Sebelumnya, Timur Tengah adalah sumber utama bahan baku impor mereka, khususnya untuk kemasan cat. Karena wilayah itu lagi tidak stabil, ASPR pun melirik ke tempat lain. China muncul sebagai alternatif yang diandalkan, dengan harapan bisa dapat bahan baku yang kualitasnya setara.
Langkah peralihan supplier ini bukan tanpa alasan. Harga minyak dunia yang melonjak sampai tembus level USD100 per barel berdampak langsung. Resin plastik, sebagai produk turunannya, ikut-ikutan naik harganya secara drastis. Jadi, mencari sumber baru itu penting banget.
“Intinya, kami butuh alternatif supplier untuk menggantikan kebutuhan bahan baku,” ujar Arif.
Artikel Terkait
BI Sebut Ruang Turunkan Suku Bunga Makin Sempit Imbas Gejolak Global
AISA Rencanakan Kuasi Reorganisasi untuk Hapus Akumulasi Kerugian Rp2,7 Triliun
Wall Street Melonjak Usai Gencatan Senjata AS-Iran-Israel, Harga Minyak Anjlok
OJK Ingatkan Galbay dari Pinjol Rusak Masa Depan Keuangan