PT Asia Pramulia Beralih ke Impor Bahan Baku Akibat Konflik Timur Tengah

- Kamis, 09 April 2026 | 00:30 WIB
PT Asia Pramulia Beralih ke Impor Bahan Baku Akibat Konflik Timur Tengah

PT Asia Pramulia Tbk (ASPR), salah satu emiten manufaktur plastik, terpaksa mengubah arah strateginya. Mereka kini akan lebih banyak mengimpor bahan baku bijih plastik. Kenapa? Pasokan lokal lagi ketat banget. Konflik yang berkecamuk di Timur Tengah, rupanya, efeknya sampai juga ke rantai pasok global dan bikin persediaan di dalam negeri makin sulit.

Selama ini, ASPR memang lebih banyak bergantung pada pemasok dalam negeri. Tapi situasi sekarang nggak memungkinkan lagi. Arif, Direktur perusahaan, mengakui bahwa manajemen harus mencari cara lain demi menjaga roda produksi tetap berputar. Diversifikasi pemasok jadi pilihan yang nggak bisa dihindari.

“Dulu komposisinya sekitar 70 persen lokal, 30 persen impor,” jelas Arif dalam Paparan Publik insidentil, Rabu (8/4/2026).

“Tapi ya gini, dampak perang dan suplai dalam negeri yang terbatas bikin kami harus memperbanyak porsi impor.”

Sebelumnya, Timur Tengah adalah sumber utama bahan baku impor mereka, khususnya untuk kemasan cat. Karena wilayah itu lagi tidak stabil, ASPR pun melirik ke tempat lain. China muncul sebagai alternatif yang diandalkan, dengan harapan bisa dapat bahan baku yang kualitasnya setara.

Langkah peralihan supplier ini bukan tanpa alasan. Harga minyak dunia yang melonjak sampai tembus level USD100 per barel berdampak langsung. Resin plastik, sebagai produk turunannya, ikut-ikutan naik harganya secara drastis. Jadi, mencari sumber baru itu penting banget.

“Intinya, kami butuh alternatif supplier untuk menggantikan kebutuhan bahan baku,” ujar Arif.

Di sisi lain, semua kenaikan biaya produksi ini akhirnya berimbas ke harga jual. Mau nggak mau, pelanggan akan merasakan penyesuaian. Arif menyebut, lonjakan harga bahan baku di pasar global saat ini sudah sangat signifikan, bahkan mengkhawatirkan.

“Untuk kemasan plastik, kabarnya naiknya bisa sampai 50-60 persen. Produk-produk kami di Asia Pramulia pun akhirnya menyesuaikan dengan kondisi harga bahan baku yang berlaku sekarang,” paparnya.

Nah, buat mengantisipasi risiko ke depan, ASPR nggak tinggal diam. Mereka terapkan manajemen stok yang ketat, plus bikin kontrak jangka panjang dengan beberapa pemasok. Strategi hedging juga dipakai untuk melindungi diri dari gejolak nilai tukar yang bisa membebani biaya impor.

Meski dibayangi tantangan biaya yang mencekik, optimisme tetap ada. Permintaan plastik untuk sektor Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) masih terlihat cerah. Masyarakat yang masih tinggi ketergantungannya pada air minum siap konsumsi jadi alasan kuat buat perusahaan terus ekspansi di segmen itu.

“Kami pantau kondisi global tiap hari, analisis terus biar stok nggak kelebihan tapi juga nggak kurang,” kata Arif menutup penjelasannya.

“Kontrak dengan supplier juga kami jaga, supaya pasokan tetap stabil.”

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar