Anak-anak Gaza Paksa Bekerja di Tengah Puing Iduladha demi Menopang Keluarga

- Kamis, 28 Mei 2026 | 03:45 WIB
Anak-anak Gaza Paksa Bekerja di Tengah Puing Iduladha demi Menopang Keluarga

Hari Raya Iduladha yang seharusnya menjadi momen sukacita dan kebersamaan keluarga, terasa pahit bagi anak-anak Palestina di Gaza. Di tengah puing-puing bangunan yang berserakan dan krisis kemanusiaan yang tak kunjung reda akibat konflik berkepanjangan, mereka justru harus bergulat dengan kerasnya hidup bekerja sejak usia dini demi menopang ekonomi keluarga yang nyaris runtuh.

Mohammad Ashour, seorang bocah laki-laki, terlihat berjalan menyusuri Jalan Al-Jala di pusat Kota Gaza. Tubuh mungilnya memanggul termos kopi, berkeliling menawarkan minuman hangat kepada para pejalan kaki. Sebuah tas kecil di punggungnya menjadi saksi bisu betapa beratnya beban yang harus dipikul di usia yang seharusnya diisi dengan tawa dan permainan. Kenangan indah tentang berwisata ke taman, menikmati hidangan di restoran, atau sekadar bermain di pesisir pantai kini hanya tinggal mimpi yang terkubur.

“Saya menjual kopi untuk menghidupi keluarga saya,” ujar Mohammad dalam sebuah wawancara dengan Metro Hari Ini Metro TV, Rabu (27/5/2026).

Baginya, suasana perang telah merampas seluruh keceriaan hari raya. Iduladha, yang dulu identik dengan kebahagiaan, kini berubah menjadi hari biasa yang penuh perjuangan. “Dahulu, saat hari raya adalah hari yang penuh sukacita, kami akan pergi keluar, berjalan-jalan dan mengunjungi taman, restoran, dan pantai. Tetapi sekarang, di bawah kondisi perang, hari raya telah menjadi hari biasa seperti hari-hari lainnya,” katanya lirih.

Tak hanya Mohammad, Wasim Aliwa juga mengalami nasib serupa. Bocah lain itu terlihat menjajakan cokelat di jalanan. Ia masih mengingat dengan jelas masa ketika Iduladha selalu identik dengan pakaian baru dan kumpul bersama keluarga besar. “Sebelum perang, saat hari raya, kami biasa pergi membeli pakaian. Tapi sekarang, semuanya menjadi buruk,” tutur Wasim.

Sementara itu, di saat sebagian besar keluarga di dunia tengah sibuk menyiapkan daging kurban dan hidangan istimewa, anak-anak Gaza justru harus mengantre di dapur-dapur umum. Mereka membawa jeriken air dan berdesakan demi mendapatkan kebutuhan dasar yang semakin langka. Puing-puing rumah yang hancur menjadi latar belakang kehidupan sehari-hari mereka sebuah lukisan kelam yang tak kunjung usai. Tawa riang yang dulu menggema di gang-gang kota, kini berubah menjadi langkah gontai penuh kelelahan.

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ratusan ribu anak di Gaza kehilangan akses terhadap pendidikan formal. Puluhan ribu anak usia dini juga tidak dapat mengikuti pendidikan dasar akibat situasi konflik yang belum mereda. Iduladha di Gaza menjadi cermin betapa mahalnya arti kedamaian.

Meski hidup di tengah keterbatasan dan ketidakpastian, anak-anak Gaza tetap menyimpan secercah harapan. Mereka berharap suatu hari nanti Iduladha dapat kembali dirayakan dengan damai tanpa suara ledakan, tanpa derita, dan tanpa kehilangan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar