Hari ini, KPK kembali bergerak. Lembaga antirasuah itu memanggil tiga orang untuk dimintai keterangan terkait kasus impor yang menjerat lingkungan Ditjen Bea Cukai Kementerian Keuangan. Cuaca di Jakarta Selatan pagi itu cukup terik, seiring dengan panasnya investigasi yang sedang berjalan.
Di antara ketiga saksi yang datang, terdapat nama Faizal Assegaf. Pria yang menjabat sebagai Direktur Utama PT Sinkos Multimedia Mandiri itu diperiksa bersama dua orang lain: Muhammad Mahzun dan Rahmat, yang keduanya merupakan pegawai di lingkungan Bea dan Cukai.
Juru bicara KPK, Budi Prasetyo, tampil di hadapan awak media untuk memberikan penjelasan. Suasana di lobi gedung KPK riuh oleh derakan kamera dan pertanyaan para wartawan.
"Terkait pemeriksaan saksi, kepada yang bersangkutan penyidik mendalami adanya dugaan penerimaan barang atau fasilitas oleh saksi dari salah satu tersangka dalam perkara Bea dan Cukai, yaitu tersangka saudara RZ," ujar Budi, Selasa (7/4/2026) siang.
Menurutnya, fokus pemeriksaan terhadap Faizal Assegaf adalah untuk menguak maksud dan latar belakang pemberian barang atau fasilitas yang diduga berasal dari Rizal (RZ). RZ sendiri bukan nama baru. Ia tersangka yang menjabat sebagai Direktur Penindakan dan Penyidikan DJBC untuk periode 2024 hingga Januari 2026.
Penyidik tentu saja tak hanya berhenti di situ. Mereka juga mendalami hal-hal lain, meski Budi enggan merincinya lebih jauh saat itu. "Salah satunya yang didalami oleh penyidik terkait dengan itu ya, penerimaan fasilitas atau barang oleh saudara FA yang diduga diperoleh dari saudara RZ," terangnya lagi, menegaskan poin sebelumnya.
Kasus ini seperti bola salju. Sebelumnya, KPK sudah lebih dulu memeriksa sejumlah pengusaha rokok. Dua nama yang sudah masuk dalam daftar panggil adalah Liem Eng Hwie dan Martinus Suparman. Investigasi tampaknya terus melebar, menyentuh berbagai pihak yang diduga terlibat.
Artikel Terkait
Jadwal Salat Bandung Rabu 10 Juni 2026: Imsak Pukul 04.26, Subuh 04.36, dan Isya 18.58 WIB
Polisi Maroko Tangkap 11 Tersangka Jaringan Narkoba dan Pencucian Uang Lintas Negara
Studi: Piala Dunia 2026 Berpotensi Jadi Edisi Paling Boros Karbon Akibat Penerbangan Massal
Marapthon Dinilai Ubah Cara Publik Konsumsi Media Digital, Pengamat Soroti Pergeseran ke Konten Partisipatif