Di tengah ramainya pembahasan anggaran, Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah punya usulan yang cukup mengejutkan. Ia ingin agar penerima subsidi LPG 3 kilogram diverifikasi menggunakan sidik jari atau retina mata. Tujuannya jelas: memastikan bantuan itu benar-benar sampai ke tangan yang berhak.
Usulan ini muncul sebagai tanggapan atas wacana pengurangan subsidi BBM yang dinilai membebani APBN. Said, yang juga Ketua DPP PDIP, tegas menyatakan penolakannya.
"Kalau subsidi BBM dikurangi kami nggak setuju. Yang diperlukan justru adalah subsidi LPG 3 Kg itu harus tepat sasaran, targeted,"
Begitu kata Said saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin lalu. Menurutnya, masalah utamanya terletak pada distribusi yang selama ini dinilai melenceng.
Lalu, bagaimana caranya? Said menekankan bahwa sekadar mengandalkan data pemerintah saja tidak cukup. Perlu ada mekanisme verifikasi yang lebih ketat dan personal di lapangan.
"Caranya bukan sekedar semata-mata pemerintah punya data sentral, tapi juga lakukanlah berulang kali saya bolak-balik dengan sidik jari atau retina mata bagi orang yang berhak untuk mendapatkan tabung LPG 3 Kg,"
Dengan sistem yang lebih presisi itu, ia yakin jumlah penerima subsidi yang sebenarnya jauh lebih kecil dari angka yang dianggarkan saat ini. Hitung-hitungan internalnya menyebut, dari pagu 8,6 juta penerima, seharusnya cukup 5,4 juta saja jika benar-benar tepat sasaran. Artinya, ada potensi penghematan anggaran yang signifikan.
Di sisi lain, Said juga menyoroti dampak kenaikan harga minyak dunia. Ia geram melihat isu ini selalu berujung pada wacana pemotongan subsidi untuk rakyat kecil.
"Kalau soal beban membebani dengan kenaikan harga minyak energi internasional, apa sih yang tidak terbebani? Kan iya. Kenapa kita mengotak-atik subsidi?"
Pertanyaannya lugas. Menurutnya, justru harga non-subsidi yang patut jadi bahan pembicaraan, bukan malah mengusik bantuan untuk orang miskin.
"Kenapa yang untuk orang miskin yang diotak-atik? Jangan dong. Kalau mau diotak-atik yang sudah dijual di pasar yang nggak harga keekonomian, itu lebih make sense,"
Ia pun mengimbau semua pihak untuk bersikap lebih tenang dan tidak panik. Kenaikan harga minyak dunia, kata Said, harus disikapi dengan kepala dingin dan perhitungan yang matang, bukan dengan reaksi berlebihan seakan-akan "besok langit akan runtuh".
Artikel Terkait
Macron Puji Ketegasan Prabowo Perjuangkan Perdamaian dan Kedaulatan Palestina
Pelayanan Haji 2026 Meningkat Signifikan, Jemaah Tak Temukan Keluhan Berarti
48 Tewas dalam Bentrokan Faksi FARC di Amazon Kolombia Jelang Pemilu Presiden
Kementerian PKP Validasi 188 Lokasi Tanah untuk Percepatan Pembangunan Rusun dan Kota Satelit