Danantara Jelaskan Alasan Mayoritas Operator PLTSa Berasal dari China

- Jumat, 10 April 2026 | 00:30 WIB
Danantara Jelaskan Alasan Mayoritas Operator PLTSa Berasal dari China

Jakarta - Soal proyek Pengolahan Sampah Menjadi Listrik (PSEL), pilihan operatornya memang menarik perhatian. Kenapa mayoritas justru dipegang perusahaan China? Danantara Indonesia akhirnya angkat bicara.

Rohan Hafas, Managing Director Stakeholder Management & Communications Danantara, punya penjelasannya. Menurut dia, alasan utamanya sederhana: kemiripan profil masyarakat. China dianggap punya karakteristik serupa dengan Indonesia, setidaknya dalam urusan sampah. Mereka sudah lebih dulu berpengalaman menangani proyek serupa, sehingga diyakini bisa lebih cepat memahami budaya lokal termasuk budaya buang sampah kita yang masih semrawut.

"Kalau saya mengambil European countries, American countries, enggak cocok. Sampahnya sudah dipilah dari rumah. Belingnya sendiri, kartonnya sendiri, sampah dapur sendiri,"

Ucap Rohan dalam konferensi pers di kantor Danantara, Jakarta, Kamis lalu.

Argumennya punya dasar. Data Bank Dunia menunjukkan fakta yang cukup memprihatinkan: sekitar separuh sampah rumah tangga di Indonesia masih berakhir dibuang sembarangan. Artinya, budaya memilah sampah dari sumbernya belum benar-benar mengakar di sini.

"Nah China mirip kayak kita. Jorok-jorok juga tuh masyarakatnya, dibuang saja semuanya. Jadi pabriknya tuh desainnya, talent semua ya, dengan energi panas sekian, lumer semualah tuh sampah basahnya ikut langsung kering (dibakar),"

tambah Rohan, menggambarkan kesamaan kondisi yang justru menjadi pertimbangan teknis.

Sebelumnya, Danantara sudah menetapkan delapan pemenang proyek PSEL. Hasilnya? Enam di antaranya berasal dari China. Dua lainnya dari Prancis dan Jepang.

Dari China, perusahaan yang terpilih antara lain Chongqing Sanfeng Environment Group Corp., Ltd, Wangneng Environment Co., Ltd, dan Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd. Lalu ada SUS Indonesia Holding Limited, China Conch Venture Holding Limited, serta PT Jinjiang Environment Indonesia.

Sementara untuk dua slot lainnya, diisi oleh Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd asal Prancis dan Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering dari Jepang.

Pilihan ini jelas menimbulkan diskusi. Tapi bagi Danantara, kemiripan karakter sampah dan pengalaman lapangan menjadi pertimbangan yang tak bisa diabaikan. Mereka butuh teknologi yang bisa langsung nyambung dengan realita di lapangan, bukan sekadar teori.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar