Said Didu Klarifikasi Polemik EO Sarang Korupsi: Targetnya Oknum Pejabat, Bukan Pelaku Profesional

- Kamis, 09 April 2026 | 04:15 WIB
Said Didu Klarifikasi Polemik EO Sarang Korupsi: Targetnya Oknum Pejabat, Bukan Pelaku Profesional

Klarifikasi Said Didu Soal Polemik "EO Sarang Korupsi"

Jakarta – Polemik pernyataan mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu tentang Event Organizer (EO) sebagai 'sarang' korupsi akhirnya mendapat penjelasan lebih lanjut. Said dengan tegas memberikan klarifikasi. Bukan para pengusaha EO yang ia maksud, melainkan oknum pejabat yang memanfaatkannya.

Dalam sebuah debat terbuka yang tayang di kanal Official iNews, Rabu (8/4/2026), Said meluruskan maksudnya.

"Bukan EO-nya sarang korupsi. Yang sarang korupsi itu adalah pejabat merancang anggaran memang untuk dikorupsi, dan menggunakan EO sebagai kuda tunggangan," ujarnya.

Ia mengaku tetap menghargai para pelaku EO profesional, seperti mereka yang tergabung dalam Backstagers Indonesia. Masalahnya, menurut Said, justru ada pada EO 'abal-abal' istilah yang ia pakai untuk menyebut para 'pencari kuitansi'.

"Ada EO abal-abal, tugasnya hanya EO pencari kuitansi, tapi dikatakan EO, padahal ditugaskan oleh pejabat 'kau cari kuitansi'. Dibayar satu, kuitansinya tiga, supaya uang keluar. Nah, itu yang saya anggap sarang korupsi," papar Said.

Menyadari diksinya yang memicu kontroversi, Said pun meminta maaf. Ia mengakui bahwa pilihan kata tersebut berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, khususnya di kalangan EO yang berjalan secara profesional.

"Itu diksi, dan saya minta maaf atas kesalahan diksi tersebut. Intinya, jangan lagi pejabat menggunakan EO ditunggangi untuk korupsi," jelasnya.

Sebelumnya, klarifikasi ini muncul setelah Forum Backstagers Indonesia merespons keras pernyataan awal Said Didu. Mereka menilai pernyataan itu bukan sekadar keliru, tetapi mencerminkan cara pandang yang bermasalah.

Ketua Forum Backstagers Indonesia, Andro Rohmana, menyebut hal ini bukan kali pertama ekonomi kreatif dinilai secara keliru oleh tokoh publik.

"Ketika tokoh publik dan seluruh penyelenggara acara berbicara mengenai EO adalah tempat korupsi paling aman, itu sama saja sesat pikiran," tegas Andro dalam sebuah video di Instagram, Jumat (3/4/2026).
"Ini bukan saja kita berbicara kekeliruan. Lebih dari itu, ini tanda bahwa sistem kita masih buta pada sebuah nilai ekonomi kreatif," katanya menambahkan.

Jadi, begitulah duduk perkaranya. Said Didu fokus pada penyalahgunaan wewenang oleh oknum, sementara pelaku industri merasa stigma itu justru merugikan mereka yang bekerja dengan baik. Sebuah salah paham yang, untungnya, mulai menemui titik terang.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar