Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, Whoosh, kembali jadi perbincangan hangat. Kali ini, sorotan tajam mengarah pada indikasi kerugian fantastis yang harus dipikul PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). Angkanya? Mencapai lebih dari Rp 4 triliun. Padahal, PSBI ini tak lain adalah pemegang saham mayoritas di PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) dengan porsi 60 persen.
Melihat angka sebesar itu, ekonom INDEF Esther Sri Astuti angkat bicara. Menurutnya, proyek Whoosh butuh evaluasi menyeluruh. Pasalnya, perhitungannya menunjukkan waktu balik modal yang sulit diterima akal sehat. “Bisa sampai 100 tahun lebih,” ujarnya.
Esther menyampaikan hal itu saat dihubungi pada Senin (23/2/2026).
“Menurut saya semua proyek pengadaan fisik berpotensi menimbulkan dugaan korupsi, tidak hanya Whoosh, tapi yang lain-lain,” katanya.
Di sisi lain, siapa sebenarnya PSBI? Konsorsium ini adalah gabungan beberapa BUMN besar: PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT Wijaya Karya (WIKA), PT Jasa Marga, dan PT Perkebunan Nusantara I. Mereka yang memegang kendali, namun kini dihadapkan pada beban kerugian yang tak main-main.
Lalu, bagaimana mengawasi pengelolaan proyek sekompleks ini? Esther punya cara sederhana. Menurutnya, bandingkan saja kualitas barang atau pekerjaan yang diterima dengan harga pasar yang berlaku. Metode itu bisa jadi alarm awal untuk mendeteksi ada tidaknya penyimpangan.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan WFH untuk Swasta Hanya Imbauan, Bukan Kewajiban
Heineken Gelar Kampanye Fans Have More Friends, Tawarkan 7 Tiket ke Final Liga Champions
Danantara Jelaskan Alasan Mayoritas Operator PLTSa Berasal dari China
Donnarumma Bantah Isu Minta Bonus, Ungkap Luka Terbesar Setelah Italia Gagal ke Piala Dunia