Sirene peringatan tiba-tiba membelah kesunyian dini hari di Tel Aviv, Rabu kemarin. Suaranya meraung-raung, memaksa warga yang tertidur lelap terjaga dan bergegas mencari perlindungan. Ini bukan latihan. Langit kota itu sendiri, tak lama kemudian, mulai dihujani oleh rudal-rudal yang datang dari Iran.
Menurut sejumlah saksi, cahaya-cahaya terang dari sistem pertahanan udara Iron Dome terlihat berkelebat, berusaha mencegat ancaman yang datang. Di bawahnya, suasana chaos tapi teratur. Warga sudah terlatih, mereka segera berhamburan menuju bunker-bunker terdekat, menghindari kemungkinan ledakan dan serpihan.
Serangan besar-besaran ini, kata pihak Iran, adalah balasan. Sebuah respons keras atas operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang terjadi pada Sabtu, 28 Februari lalu. Operasi itu berakhir tragis dengan gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei.
Teheran tak tinggal diam. Mereka melancarkan serangan balasan yang menargetkan berbagai fasilitas militer AS dan Israel di seluruh Timur Tengah. Ketegangan yang sudah memanas selama hampir dua pekan ini benar-benar mencapai titik puncaknya.
Dan Tel Aviv bukan satu-satunya target. Angkatan Darat Iran juga mengklaim telah mengerahkan armada dronenya untuk menghantam Haifa. Sasaran mereka di kota pelabuhan itu cukup vital: kilang minyak, fasilitas pengolahan gas, hingga tempat penyimpanan bahan bakar.
Artikel Terkait
Pakistan dan Thailand Ambil Langkah Darurat Hemat Energi Imbas Gejolak Timur Tengah
Wamenaker dan Kejati Sumut Bahas Sinergi Hukum dan Pelatihan Kerja
Gubernur Sumut: Huntap Korban Bencana Diresmikan Pekan Ini oleh Mendagri
Anggota DPR Peringatkan Dampak Ketegangan Timur Tengah terhadap Industri Manufaktur Indonesia