Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tampil dengan gaya yang santai dan percaya diri saat salat Idulfitri. Ia mengenakan baju koko lengan pendek yang ternyata dibeli dengan cara yang sangat merakyat: ia menawarnya sendiri di Pasar Tanah Abang.
"Ini di Tanah Abang waktu itu. Kayanya ini Rp125 (ribu). Dikitlah tawarnya. Boleh (nawar), kan kita ngirit," canda Purbaya, usai menunaikan salat Id di Masjid Salahuddin, Kantor Pusat Ditjen Pajak, Sabtu lalu.
Sambil bercanda dengan para wartawan, ia mengaku tak sungkan sedikit pun untuk menawar harga. Meski begitu, urusan pembayaran tetap berjalan tertib. "Yang bayar Pak Sekjen soalnya," imbuhnya sambil tertawa lebar.
Lebaran tahun ini memang spesial baginya. Ini adalah Idulfitri pertama Purbaya dalam posisi barunya sebagai Menkeu. Sebuah momentum yang ia akui membawa beban pikiran lebih berat ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Tanggung jawab mengelola keuangan negara jelas bukan hal sepele.
"Pertama jadi Menteri ya, lebih berat daripada biasanya. Kalau malam santai aja masih mikir gitu. Kadang-kadang susah tidur," ujarnya.
Tapi di balik beban itu, ada kebahagiaan tersendiri. "Tapi lebih senang. Bonus lebih banyak," tuturnya.
Di sela kesibukannya, Purbaya tetap menyempatkan waktu untuk keluarga. Bahkan, malam sebelum Lebaran, ia sempat menghibur diri dengan siaran langsung di platform media sosial. "Semalam live TikTok sama anak saya, saya main sama dia lah," ceritanya.
Selama bulan Ramadan, Menteri Purbaya tak hanya sibuk dengan angka-angka anggaran. Ia juga turun langsung melihat kondisi pasar. Dua kali ia melakukan peninjauan, ke Tanah Abang di Jakarta dan Beringharjo di Yogyakarta. Ia pun mengapresiasi produk dalam negeri yang menurutnya berkualitas dan laris dibeli.
Namun begitu, di balik keriuhan transaksi, ada cerita lain yang menarik perhatiannya. Purbaya menemukan fakta bahwa masih banyak pedagang kecil yang terbelit utang dari masa pandemi. Beban itu masih terasa menyiksa.
"Cuma di sana tetap aja ada keluhan, waktu datang ke sana tuh ada korban Covid. Banyak waktu Covid, utangnya harus direstrukturisasi, tapi bunganya masih besar. Dia bilang tiap bulan tuh bayarannya besar. Jadi dia minta bantuan," kata Purbaya, menirukan keluhan para pedagang.
Merespons hal itu, ia kini sedang memikirkan sebuah solusi. Purbaya tengah menyiapkan skema bantuan melalui Pusat Investasi Pemerintah (PIP) untuk meringankan beban mereka.
"Saya lagi mikir bisa enggak PIP restrukturasi utang mereka dengan bunga yang lebih panjang, dan bunga yang lebih rendah. Dan saya udah ngomong sama PIP. Saya pikir nanti kalau udah siap, saya akan bekerja lagi ketemu orang-orang itu," pungkasnya.
Artikel Terkait
Kemensos Berhentikan 49 Pendamping PKH Sepanjang 2025 Akibat Langgar Aturan Penyaluran Bansos
Mensos Gus Ipul Tegaskan Tak Akan Intervensi Pengadaan Sepatu Sekolah Rakyat Senilai Rp27 Miliar
Pendapatan IMAX Turun 6,5 Persen di Kuartal I 2026, Laba Bersih Anjlok 26 Persen
Komisi Reformasi Polri Serahkan Laporan Rekomendasi Setebal 3.000 Halaman ke Presiden Prabowo