Saham Nikel Tertekan, Pasar Cermati Rencana Pemerintah Terapkan Bea Keluar dan Windfall Tax

- Selasa, 05 Mei 2026 | 11:40 WIB
Saham Nikel Tertekan, Pasar Cermati Rencana Pemerintah Terapkan Bea Keluar dan Windfall Tax

Saham-saham emiten tambang nikel mengalami tekanan pada perdagangan Selasa (5/5/2026) setelah pasar mencermati rencana pemerintah yang akan memberlakukan bea keluar dan pajak keuntungan luar biasa atau windfall tax. Kekhawatiran terhadap dampak kebijakan fiskal baru itu mendorong aksi jual di sektor komoditas, terutama nikel.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 10.59 WIB, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat penurunan paling tajam di antara emiten nikel lainnya. Saham perusahaan tambang itu ambles hingga 8,00 persen ke level Rp6.325 per unit. Sementara itu, saham PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) ikut terdepresiasi 3,42 persen menjadi Rp3.670 per unit, disusul PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang turun 2,81 persen dan PT PAM Mineral Tbk (NICL) yang melemah 2,84 persen.

Di sisi lain, saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) terkoreksi 1,93 persen, PT Timah Tbk (TINS) merosot 1,58 persen, dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) memerah tipis 0,74 persen. Pelemahan ini terjadi secara serempak di tengah ketidakpastian pasar mengenai besaran tarif yang akan diterapkan pemerintah.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai rencana kebijakan tersebut menjadi sentimen baru bagi pasar, meskipun hingga saat ini masih menyisakan ketidakpastian teknis. Menurutnya, nikel dan batu bara menjadi dua komoditas yang akan dikenakan bea keluar dan windfall tax dengan tujuan menutup beban subsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta meningkatkan penerimaan negara.

“Tujuannya untuk menutup beban subsidi APBN dan meningkatkan penerimaan negara. Namun belum ada angka pasti mengenai besaran yang akan ditetapkan,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).

Kendati demikian, Michael menambahkan bahwa sektor nikel masih memiliki ruang profitabilitas yang kuat jika melihat tren harga komoditas saat ini. Ia menilai perusahaan-perusahaan komoditas, khususnya nikel, tetap berpotensi memperoleh keuntungan dari laba bersih di tengah wacana kebijakan tersebut.

Secara spesifik, Michael menyoroti pergerakan saham INCO yang mengalami tekanan cukup dalam, namun tetap menarik dari sisi teknikal dan aliran dana. Ia mencatat bahwa saham INCO termasuk yang banyak dikoleksi investor asing sepanjang tahun ini.

“Secara technical analysis dan flow, INCO sendiri termasuk saham yang dikoleksi oleh investor asing di tahun ini. Area support INCO sendiri berada di angka 6.000 dengan potensi gap yang ditutup di angka 5.850. Hal ini menarik bagi investor yang ingin mengoleksi saham INCO,” tuturnya.

Sebelumnya, pemerintah tengah menyiapkan dua instrumen fiskal baru yang menyasar sektor komoditas, yaitu bea keluar dan windfall tax. Kebijakan ini diprakarsai oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan target awal komoditas nikel, dan kemungkinan akan diperluas ke batu bara.

Windfall tax sendiri merupakan instrumen perpajakan yang dikenakan atas lonjakan laba perusahaan yang berasal dari faktor eksternal, seperti melonjaknya harga komoditas di pasar global, bukan dari kinerja internal. Dalam konteks saat ini, gejolak harga minyak mentah dunia akibat konflik di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya beban subsidi energi dalam APBN, sehingga pemerintah perlu mencari sumber penerimaan tambahan untuk menutup selisihnya.

Selain tujuan fiskal, pengenaan bea keluar juga diarahkan untuk memperkuat pengawasan ekspor. Sebagai penyeimbang, pemerintah berencana memberikan insentif bagi industri yang memanfaatkan bahan baku dalam negeri, termasuk industri baterai berbasis nikel, guna mendorong hilirisasi dan menjaga daya saing produk turunan di pasar domestik.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar