Jumlah mahasiswa asing di China terus menunjukkan peningkatan signifikan, menandai semakin tingginya minat global terhadap pendidikan tinggi di negara tersebut. Pada tahun ajaran 2024-2025, Kementerian Pendidikan China mencatat sebanyak 380.000 mahasiswa asing yang berasal dari 191 negara. Angka ini melonjak cukup tajam jika dibandingkan dengan masa puncak pandemi, di mana jumlah mahasiswa asing hanya mencapai 255.720 orang.
Dominasi mahasiswa dari kawasan Asia dan Afrika sangat terlihat dalam komposisi populasi mahasiswa asing di China. Berdasarkan data yang dihimpun, mahasiswa dari Asia mencapai 61 persen, sementara mahasiswa dari Afrika menyumbang 16 persen dari total keseluruhan. Peningkatan jumlah mahasiswa Afrika terbilang signifikan. Pada 2012, tercatat lebih dari 27.000 mahasiswa Afrika menempuh pendidikan di China, dan jumlah itu melonjak menjadi lebih dari 81.000 orang pada 2018.
Dari kawasan Asia, negara-negara seperti India, Indonesia, Vietnam, dan Thailand menjadi penyumbang utama mahasiswa asing. Pakistan juga mencatatkan angka yang impresif. Hingga Desember 2025, Kedutaan Besar Pakistan di China melaporkan sekitar 29.000 mahasiswa Pakistan terdaftar di berbagai universitas China, meningkat hampir 50 persen dibandingkan tahun 2015.
Sementara itu, mahasiswa dari kawasan Eropa hanya mencakup 15,6 persen dari total populasi mahasiswa asing pada 2026. Di sisi lain, jumlah mahasiswa dari Amerika Serikat justru mengalami penurunan drastis. US–China Education Trust memperkirakan pada Maret 2026 hanya ada sekitar 2.000 mahasiswa AS yang tengah menyelesaikan studi di China, turun signifikan dari 11.000 orang pada 2019. Pada tahun ajaran 2024-2025, mahasiswa dari AS dan Oseania hanya mewakili 7,1 persen dari total populasi mahasiswa asing.
Penurunan jumlah mahasiswa AS ini tidak lepas dari ketegangan politik dan kebijakan yang diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump. Banyak program beasiswa yang berkaitan dengan China dikurangi. Selain itu, muncul kekhawatiran di kalangan mahasiswa mengenai prospek karier di pemerintahan. Sebagian besar dari mereka meyakini bahwa kuliah di China akan mempersempit peluang untuk bekerja sebagai pegawai negeri di Amerika Serikat.
Di balik dinamika politik tersebut, daya tarik utama China bagi mahasiswa asing justru terletak pada biaya pendidikan yang relatif terjangkau. Meskipun mahasiswa asing harus membayar biaya kuliah lebih tinggi dibandingkan mahasiswa lokal, angka tersebut masih jauh lebih murah jika dibandingkan dengan biaya pendidikan di negara asal mereka. Sebagai gambaran, seorang mahasiswa Korea Selatan di Sun Yat-Sen University harus membayar CNY26.000 per tahun, sementara mahasiswa lokal hanya membayar CNY6.000 per tahun. Namun, biaya tahunan itu tetap lebih murah dibandingkan biaya kuliah di Korea Selatan.
China memiliki banyak universitas ternama dengan biaya yang jauh lebih kompetitif ketimbang kampus-kampus terkenal di Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Biaya kuliah untuk jurusan STEM pun masih terbilang murah, bahkan bagi mahasiswa yang membiayai studi secara mandiri tanpa beasiswa. Sebagai contoh, biaya kuliah di fakultas kedokteran Tsinghua University berkisar antara CNY40.000 hingga CNY70.000 per tahun, atau setara Rp102 juta hingga Rp178 juta. Sebagai perbandingan, biaya kuliah kedokteran di Harvard University mencapai USD76.828 per tahun, setara dengan Rp1,33 miliar.
Namun, kuliah di China bukanlah tanpa tantangan. Banyak mahasiswa asing mengakui bahwa menjalani pendidikan tinggi di China jauh lebih sulit dibandingkan di negara asal mereka. Budaya belajar dan kompetisi yang sangat ketat telah menjadi ciri khas masyarakat China sejak usia dini. Anak-anak sekolah di negara tersebut terbiasa dengan intensitas belajar yang tinggi, sehingga standar akademik di perguruan tinggi pun mengikuti ritme yang sama.
Artikel Terkait
Polisi Periksa Mantan ART Selama 2,5 Jam di Kasus Dugaan Penganiayaan Erin Taulany
Puasa Ayyamul Bidh Jatuh pada Jumat, Begini Hukumnya
Cuaca Panas dan Polusi Melemahkan Sistem Imun, Masyarakat Diimbau Lebih Waspada
Kris Dayanti Pukau Penonton di Womens Inspiration Awards 2026 dengan Pesan Pemberdayaan Perempuan